Headlines News :

Cerita Dewasa ML dengan wanita Frustrasi Lebih Garang

Written By Unknown on Jumat, 09 November 2012 | 04.25

Cerita ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu. Saat itu aku masih kuliah pada semester ke empat. Aku adalah seorang pria lajang 20 th dengan tinggi 175 cm berat 70 kg yang sedang kuliah di salah satu PTN di daerahku. Aku tinggal disebuah rumah bedeng 5 pintu dan aku berada pada pintu yang pertama. Kalau dibandingkan dengan teman-temanku, aku termasuk anak yang pemalu alias kuper (kurang pergaulan). Hal ini membuatku lebih betah berada di kosanku, oh ya di bedeng tersebut aku nge-kost, dari pada harus keluar rumah tanpa tujuan. Sesekali aku juga sering menonton film BF untuk memuaskan hasrat birahiku dan selalu berakhir dengan beronani.

Cukup sudah pengantarnya ok. Sekarang lanjut ke pengalaman pertamaku yang berawal dari tempat kost dimana aku tinggal. Disebelah (pintu no2) tinggal seorang wanita muda sekitar 25 tahun bernama Desi tinggi 160 berat 50 kg yang bersuamikan seorang supir taxi tetapi sudah 7 tahun belum dikarunia seorang anak. Pintu no3 ditempati oleh seorang wanita 35 tahun tinggi 165 berat 60 kg yang sudah memiliki 2 orang anak 7 dan 5 tahun yang semuanya perempuan, ia bernama Ita. Nah, dari sinilah semuanya berawal.


Seperti biasa pada pagi hari semua penghuni bedeng sibuk dibelakang (mandi, mencuci). Perlu diketahui bahwa kondisi di rumah ini memiliki 5 kamar mandi terpisah dari rumah dan 2 buah sumur (air harus diangkat ke kamar mandi, maklum yang punya rumah belum punya Sanyo). Aku yang sudah terbiasa mandi paling pagi sedang duduk santai sambil nonton TV. Lagi asik nonton terdengar olehku gemercik air seperti orang sedang mandi. Mulanya sih biasa saja, tapi lama kelamaan penasaran juga aku dibuatnya. Aku mencoba melihat dari balik celah pintu belakang rumahku, dan aduh!! betapa kagetnya aku ketika melihat Mbak Desi yang sedang mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Aku tidak tahu mengapa ia begitu berani untuk membuka tubuhnya pada tempat terbuka seperti itu. Mbak desi yang sedikit kurus ternyata memiliki payudara sekitar 32b dan sangat seksi sekali. Dengan bentuknya yang kecil beserta puting warna merah jambu untuk orang yang sudah menikah bentuknya masih sangat kencang.


Aku terus mengamati dari balik celah pintu, tanpa kusadari batang kejantananku sudah mulai berdiri. Sudah tak tahan dengan pemandangan tersebut aku langsung melakukan onani sambil membayangkan bercinta dengan Mbak desi ditempat terbuka tersebut. Semenjak hal itu, aku jadi ketagihan untuk selalu mengintip jika ada kesempatan. Keesokan harinya, aku masih sangat terbayang-bayang akan bentuk tubuh Mbak desi. Hari itu adalah hari minggu, dan aku sedikit kesiangan. Ketika aku keluar untuk mandi, aku melihat Mbak Ita sedang mencuci pakaian. Dengan posisinya yang menjongkok terlihat jelas olehku belahan payudaranya yang terlihat sudah agak kendor tapi berukuran 34 b. Setiap kali aku memperhatikan pantatnya, entah mengapa aku langsung bernafsu dibuatnya (mungkin pengaruh film BF dengan doggy style yang kebetulan favoritku). Kembali batang kemaluanku tegang dan seperti biasa aku melakukan onani di kamar mandi.


Dua hari kemudian terjadi keributan di tetanggaku, yaitu Mbak ita yang sedang bertengkar hebat dengan suaminya (seorang agen). Ia menangis dan kulihat suaminya langsung pergi entah kemana. Aku yang kebetulan berada disitu tidak bisa berbuat apa-apa. Yang ada dipikiranku adalah apa sebenarnya yang sedang terjadi. Keesokan harinya Mbak Ita pergi dengan kedua anaknya yang katanya kerumah nenek, dan kembali sorenya.


Sore itu aku baru akan mandi, begitu juga dengan Mbak ita. Setelah selesai aku langsung buru-buru keluar dari kamar mandi karena kedinginan. Diluar dugaanku ternyata aku menabrak sesuatu yang ternyata adalah Mbak ita. Keadaan waktu itu sangat gelap (mati lampu) sehingga kami saling bertubrukan. Menerima tubrukan itu, Mbak ita hampir jatuh dibuatnya. Secara reflek aku langsung menangkap tubuhnya. AduH! Tenyata aku tanpa sengaja telah menyentuh payudaranya. " Maaf.. Aduh maaf mbak, nggak sengaja" ucapku. " Nggak, nggak pa pa kok, wong saya yang nggak liat" balasnya.


Sejenak kami terdiam dikeheningan yang pada saat itu sama-sama merasakan dinginnya angin malam. Tanpa dikomando, tubuh kami kembali saling berdekatan setelah tadi sempat malu karena kecerobohan kami berdua. Aku sangat degdegan dibuatnya dan tidak tahu harus berbuat apa pada posisi seperti ini. Sepertinya Mbak ita mengetahui bahwa aku belum pengalaman sama sekali. Ia kemudian mengambil inisiatif dan langsung memegang kemaluanku yang berada dibalik handuk. Est ..est.. auw ..aku mengerang keenakan. Belum selesai aku merasakan belaian tangannya, tiba-tiba ujung kemaluanku terasa disentuh oleh benda lembut dan hangat. Mbak ita sudah berada dibawahku denagn posisi jongkok sambil mengulum kemaluanku. Aduuhh .. nikmatt.. terus .. Akh ..est .. Sekarang aku sudah telanjang bulat dibuatnya.


10 menit sudah kemaluanku dikulum oleh Mbak ita. Aku yang tadi pemalu sekarang mulai mengambil tindakan. Mbak ita kusuruh berdiri dihadapanku dan langsung kulumat bibinya dengan lembut. Est .. Ah ..uh ouw .. Ia mendesah ketika bibir kami saling berpagutan satu sama lain. Ciumanku sekarang telah berada pada lehernya. Bau sabun mandi yang masih melekat pada tubuhnya menambah gairahku. Est .. Ah .. teruss.. kepalanya tengadah keatas menahan nikmat. Kini tiba saat yang kutunggu. Handuk yang masih menutupi tubuhnya langsung kubuka tanpa hambatan. Secara samar-samar dapat kulihat bentuk payudaranya. Kuremas dan kukecup dengan lembut dan au ..est..nikmaat..teruss ..aow .., Mbak ita menahan nikmat.


Sambil terus mencicipi bagian tubuhnya akhirnya aku sampai juga didaerah kemaluannya. Aku sedikit ragu untuk memcicipi kemaluanya yang sudah sedikit basah itu. Seperti difilm BF aku mencoba mempraktekkan gaya melumat kemaluan wanita. Kucoba sedikit dengan ujung lidahku, rasanya ternyata sedikit asin dan berbau amis. Tetapi itu tidak menghentikanku untuk terus menjilatinya. Semakin lama rasa jijik yang ada berubah menjadi rasa ninkmat yang tiada tara. Est ..est ..teruuss ..tee..russ..auw ..nik, mat..mbak ita tak mampu menahan nikmat yang diterimanya dari jilatan mautku yang sesekali kuiringi dengan memasukkan jariku ke liang senggamanya. "Mbak mau .. kelu..ar ahh" racaunya.

Tanpa kusadari tiba-tiba keluar cairan kental dari vagina nya yang belakangan kutau bahwa itu adalah cairan wanita. Aku belum berhenti dan terus menjilati kemaluanya sampai bersih.

Puas aku menjilati kemaluannya kemudian langsung aku angkat ia kedalam rumahnya menuju kamar tidurnya. Aduh .. benar-benar tak habis pikir olehku, wanita segede ini bisa kuangkat dengan mudah. Sesampai dikamarnya aku langsung terbaring dengan posisi terlentang. Mbak ita tanpa diperintah sudah tahu apa yang kumau dan langsung mengambil posisi berada diatasku. Oh ..ya pembaca, bahwa batang kemaluanku standar-standar saja untuk orang Indonesia. Aku yang berada dibawah saat itu sengaja tidak berbuat apa-apa dan membiarkan Mbak Ita mengambil inisiatif untuk memuaskanku.


Mbak Ita langsung memegang kemaluanku dan mencoba memasukkannya kedalam liang senggamanya. Blues..bleb.. tanpa hambatan batang kejantananku tenggelam seluruhnya kedalam liang kenikmatan Mbak Ita. Est..es..auw..oh..ah..aku hanya terpejam merasakan kemaluanku seperti diperas-peras dan hangat sekali rasanya. Aku tak menyangka bahwa kenikmatan bersenggama dengan wanita lebih nikmat dibanding dengan aku beronani. Mbak Ita mulai menggenjot pantatnya secara perlahan tapi pasti. Ah..ah..ah..oh..oh..nik..maatt..ahh.. Mbak Ita terus melakukan gerakan yang sangat erotis. Desahan Mbak Ita membuatku semakin bernafsu ditambah dengan payudaranya bergoyang kesana-kemari. Rupanya aku tak bisa lagi tinggal diam. Aku berusaha mengimbangi genjotan Mbak Ita sehingga irama genjotan itu sangat merdu dan konstan. Tangankupun tidak mau kalah dengan pantatku.


Aku berusaha mencapai kedua payudara yang ada didepan mataku itu. "Wah ..indahnya pemandangan ini" ucapku dalam hati. Tidak puas dengan hanya menyentuh payudara Mbak Ita, aku langsung mengambil posisi duduk sehingga payudara Mbak ita tepat berada didepan wajahku. Kembali aku melumat putingnya dengan lembut kiri dan kanan bergantian. Ahh..ah ..ah..oh.. Est..ss Mbak ita kelihatannya tak tahan menahan nikmat dengan perlakuanku ini. Lama kelamaan genjotan Mbak Ita semakin cepat dan aku..a..ku.. kee..luuarr..ahh..ohh..nikmaatt Mbak ita akhirnya mencapai klimaks yang kedua kalinya. Aku yang belum apa-apa merasa kesal tidak bisa klimaks secara bersamaan. Akhirnya aku meminta Mbak Ita untuk kembali mengulum kemaluanku. Mbak Ita yang sudah mendapat kepuasan dengan semangat mengulum dan menjilati kemaluanku. Est..est..ahh..oh ucapku ketika Mbak Ita semakin mempercepat kuluman dan kocokannya pada kemaluanku. Sepertinya ia ingin segera memuaskanku dan menikmati air kejantananku.


Selang 10 menit ah..auw..oh..nik..maatt..oh.. crot..crot..crot..semua air maniku tertumpah diwajah Mbak Ita dan diseluruh tubuhnya. Saat itu Mbak Ita tidak berhenti kulumannya dan menjilati seluruh air jantan tersebut. Aku sangat ngilu dibuatnya tapi sungguh masih sangat nikmat sekali.


Setelah merasakan kepuasan yag tiada tara kami langsung jatuh terkulai diatas kasur. Mbak Ita tampaknya sangat kelelahan dan langsung tertidur pulas dengan keadaan telanjang bulat. Aku yang takut nanti ketahuan orang lain langsung keluar dari kamar tersebut dan mengambil handukku menuju rumahku.


Ketika aku baru akan keluar dari rumah Mbak Ita, alangkah terkejutnya aku ketika dihadapanku ada seorang wanita yang kuduga sudah berdiri disitu dari tadi dan menyaksikan semua perbuatan kami. Eh..mm..mbak..mbak ..Desi..ternyata ia tidak lain adalah Mbak Desi. "Permisi mbak, aku mau masuk dulu" ucapku pura-pura tidak ada yang terjadi. Sambil berjalan tergesa-gesa aku langsung menuju rumahku untuk menghindari introgasi dari Mbak Desi. Tiba-tiba "tunggu!!" teriak Mbak Desi. Aku langsung panas dingin dibuatnya. "Jangan jangan ia akan melaporkanku ke Kepala Desa lagi" ucapku dalam hati." Aduuhh gawat nih, bisa-bisa cuci kampung" pikirku. " A..a..ada apa ya mbak" balasku. Mbak Desi langsung mendekatku dan berkata " kamu akan aku laporkan kesuami Mbak Ita dan kepala desa atas apa yang telah kamu lakukan" ucap Mbak Desi. " Ta..tapi kami melakukannya atas dasar suka sama suka Mbak " balasku dengan perasaan sedikit cemas. Tiba-tiba " ha..ha..ha..ha.. " Mbak desi tertawa.


Aku semakin bingung dibuatnya karena mungkin Mbak desi punya dendam dan sekarang berhasil membalaskannya. " Nggak usah takut, pokoknya sekarang kamu tetap berdiri disitu dan jangan sekali-kali bergerak ok!" usulnya. "Mbak mau melaporkan saya atau takut saya lari" ucapku semakin bingung. Tanpa bicara lagi Mbak Desi semakin mendekatiku. Setelah tidak ada lagi jarak diantara kami tangan Mbak Desi langsung melepas handuk yang kugunakan tadi sehingga aku kembali telanjang bulat."Mbak jangan dikebiri ya.." ucapku."Nnggak..nggak pa pa kok" balasnya. Mbak Desi ternyata langsung berjongkok dan mulai mengocok kemaluanku.


Ah..ah..oh..oh.. aku yang tadi lemas kembali bergairah dibuatnya. Belum lagi aku selesai merasakan nikmatnya kocokan lembut dari tangan Mbak Desi, aku kembali merasakan ada benda lembut, hangat dan basah menyentuh kepala kemaluanku. Aku langsung tahu bahwa itu adalah kuluman dan jilatan dari mulut Mbak Desi setelah tadi aku merasakannya dengan Mbak Ita. Kuluman dan jilatan Mbak Desi ternyata lebih nikmat dari Mbak Ita. Aku bertaruh bahwa Mbak Desi telah melakukan berbagai macam gaya dan variasi dengan suaminya untuk memperoleh keturunan. Estt..ah..oh..oh..aduhh..auw.. desahku menahan hebatnya kuluman Mbak Desi. 15 menit sudah acara kulum-kuluman itu dan sekarang Mbak Desi telah berganti posisi dengan menungging. Pantatnya yang kecil namun berisi itu sekarang menantangku untuk ditusuk segera dengan rudalku. "Ayo..cepetan..kamu sudah lama menginginkan ini kan..Mbak tau kamu sering ngintip dari celah pintu itu..ayoo masukkan dong" ucapnya dengan mesra.


Aku jadi malu dibuatnya bahwa selama ini ia tahu akan perbuatanku. Tanpa pikir panjang aku langsung mencoba memasukkan batang kemaluanku ke liang kenikmatan Mbak Desi. "Aduh!!" meleset pada tusukanku yang pertama. Aku kembali mecoba dan bluess..akhirnya aku berhasil juga. "Gila nih perempuan "pikirku, "ternyata lubang kemaluannya masih sempit sekali" ucapku. Perlahan aku coba menggoyangkan pantatku mau-mundur. Ah.ah..ahh..oh..oh..oh..ah.. Mbah Desi mulai mendesah menahan nikmat. Aku semakin mempercepat goyanganku karena memang ini adalah gaya favoritku. "Ayo..teruuss..ayo.." teriakku memberi semangat". Ah..ah..ah..oh..desah Mbak Desi semakin terdengar kencang. Melihat payudaranya yang bergelantung dan bergoyang-goyang membuatku ingin mewujudkan impianku selama ini. Sambil terus menggenjot Mbak Desi aku berusaha mencapai payudaranya. Kuremas-remas dengan garangnya seolah meremas santan kelapa. Aw..sakiitt..adu..hh..ah..ah.. Mbak Ita tak tahan akan perlakuanku. Aku tidak memperdulikannya dan tetap menggenjot dengan cepat.


Kemudian aku mengganti posisi dengan menggendong Mbak Desi didepanku. Bluess.. Kembali batang kejantananku kumasukkan kedalam liang senggamanya. Ahh..ah..ah..ah..desah Mbak Desi menahan nikmat. Kulumat bibir dan kuciumi seluruh leher dan kukecup kedua puting susunya yang merah itu. Adu..nikkmatt sekaalii ah..ah..ah..oh..oh.. Mendapat perlakuan demikian bertubi-tubi akhirnya Mbak Desi tak sanggup lagi menahan klimaksnya "Keeluuarr ..mau..ke..lua..rr akhirnya Mbak Desi mencapai klimaksnya. Aku yang sedikit lagi juga hampil finish semakin menggenjot dengan cepat."Blep..blep..blep..bunyi hentakan sodokan antara kemaluanku dan kemaluan Mbak Desi yang sudah sangat basah tersebut. Tidak lama kemudian aku merasakan ada denyut-denyut di ujung batang kemaluanku dan:"Crot..crot..crot..tumpahlah seluruh iir maniku kedalam liang senggamanya.


Setelah itu kami berciuman sambil merasakan sisa-sisa nikmat yang ada dan kembali kerumah masing-masing. Keesokan harinya ketika bertemu, kami seolah-olah tidak merasakan sesuatu terjadi. Pembaca sekalian rupanya Mbak Ita tidak mau lagi berbicara denganku semenjak kejadian itu tapi aku terkadang masih melakukan hubungan sex ini hanya dengan Mbak Desi saja ketika saya sedang ingin atau ia sedang sangat ingin melakukannya. Sekarang saya sudah selesai kuliah dan tidak lagi tinggal dibedengan itu. Saya masih sangat merindukan untuk kembali berhubunagn sex dengan Mbak Desi atau Mbak Ita karena mereka telah membuat saya tidak virgin lagi.
04.25 | 0 komentar | Read More

Cerita Dewasa Ngentot Dengan Pacar Temanku

Cerita Dewasa Ngentot Dengan Pacar TemankuSudah  lama aku mempunyai sahabat baik atau best friend,Salah satu best friendku yang paling suka adalah reza,Dia selalu ngerti apa yang aku mau apa yang aku galaukan dan aku pedihkan.Setiap hari kita bisa bertutur sapa memang karena rumah aku dan rumah dia bersebelahan,Sejak kecil bahkan bisa dibilang selalalu menghabiskan masa bermain nya dengan dia.Hingga kami berdua berinjak dewasa dan mengenal cinta hubungan pertemanan kami masih tetep terjalain baik.Hingga kami sepakat untuk menjalin Hubungan pertemanan ini sampai kapan pun.Ibarat Bulan tanpa bintang’serasa kelam dan gelap bumi ini jika malam menjelang” Reza adalah temanku dan dia kadang bisa mengerti keadaanku karena dia telah cukup lama berteman dan mengerti semua tentang aku,begitupun sebaliknya.Tidak usah banyak ngomel aku adalah Tommy umur gwe skarang 21 tahun.. ya mungkin masih masih muda ya. awalnya waktu gwe masih duduk di bangku SMA.. ya gwe waktu SMA lumayan di pandanglah karna gwe dari kalangan orang berada (punya uang) dan juga tampang yang gak jelek2 banget. Inilah awal dimana cerita dewasa ini akan dimulai. Gue di sekolah punya banyak temen dan seseorang bernama Reza. Reza temen dekat gwe dari SMP. gwe punya pacar namanya Donna dan Donna punya teman bernama Lisa. Lisa adalah pacarnya reza. hubungan gwe ama Donna baik2 saja malah dibilang jarang bekelahi dan adu mulut. yang pasti romantis banget deh. Hungungan Reza dengan Lisa kebalikan dari hubungan gwe. mreka sering banget berantem karna Lisa dikenal dengan cwe yang cukup seksi, genit dan juga suka mempermainkan cwo. sebenarnya mrereka sering berkelahi karna Reza sering melarang Lisa untuk inilah.. itulah.. ya pokoknya banyaklah.. ya gwe tau itu karna Reza sayang ama Lisa dan Reza juga sadar Lisa harus meninggalkan kebiasaan lamanya karna dia skarang sudah milik Reza. walaupun mereka sering berantem sebenarnya Lisa juga sayang banget sama Reza. itu gwe bisa tau karna Lisa sering banget curhat ama gwe.. kalo Lisa lagi curhat dia biasanya cuma mau gwe doang yang dengerin dan dia gak mau ada orang lain.. jadi Lisa sering banget main kerumah gwe. saking seringnya Lisa curhat ama gwe Reza dan Donna gak curiga ama hubungan gwe ma Lisa.

hubungan gwe ama Lisa diawali waktu Reza berantem sehabis pulang skolah dengan Lisa.. saat itu jam istirahat gwe liat Reza ama Lisa berantem di kantin dan setelah itu Reza langsung bolos sekolah dengan alasan sakit ke guru piket agak bisa pulang. Biasanya kalo pulang sekolah Lisa, Donna dan Reza pulang sama gwe.. karna kebetulan gwe bawa mobil. Tp siang itu Reza gak sama2 ama gwe karna dia pulang duluan dan gwe gak tau dia kemana karna HP dia matiin. saat pulang, biasanya gwe anterin Lisa dulu baru Donna terakhir tp saat itu Lisa minta ijin ke Donna mau curhat ama gwe jadi dia mau Donna duluan yang di anterin pulang bari Lisa terakhir karna dia mau ngobrol ama gwe di mobil berdua aja. ya tanpa cemburu Donna kasih ijin ke gwe.

Pas gwe udah anterin Donna pulang Lisa bilang dia maunya curhat dirumah gwe aja.. rumah gwe selalu kosong cuma ada pembatu aja karna nyokap bokap biasanya pulang kerja jam 8 malah.. malah bisa2 gak pulang atau tugak ke luar kota (sering tugas luar). ya sudah gwe ajak aja Lisa kerumah gwe tanpa ada pikiran macam2 karna setau gwe Lisa cuma mau curhat.

pas sampai dirumah gwe suruh Lisa duduk diruang TV sambil nunggu gwe ganti baju dikamar. pas gwe masuk kamar ya biasalah lelaki ngeliat gambar bokep dikit langsung ngaceng.. hehehehehe. karna gwe dah ngaceng gwe pikir tanggung deh gwe coli aja dlu di kamar abis itu baru curhat. karna biasanya gwe jarang kunci pintu jadi pintu gak gwe kunci.. mungkin karna gwe kelamaan di kamar Lisa gak ketok pintu dia langsung aja masuk dan ngeliat gwe tanpa baju ama celana.. ya serentak gwe kagetlah!! saking kagetnya burung gwe loyo lagi deh!!! dalem hati gwe malu abis ama Lisa.. tp saat itu Lisa tiba2 berubah.. lisa bilang ih Tommy… ngapain tuh?? gwe tungguin dari tadi di luar malah main burung di kamar.. kalo lagi main burung ajak2 donk!!! (sambil bercanda).

ah enggak kok Lis, gwe cuma capek aja tadi di sekolah.. (udah gak tau mau bilang apa). ya ampun Tom…. ngaku aja deh ma gwe… kaya gwe orang lain pake boong segala??? (sambil senyum dan ketawa). ya udah deh Tom gwe mau curhat nih.. nungguin loe main burung kelamaan ah!! ya udah gwe mau pake baju dulu… loe keluar donk Lis… udah ah loe gak usah pake baju Tom gwe pengen ketawa liat loe bugil… ah gila loe Lis, keluar dulu donk.. enggak kok.. gwe gak bakal bilang siapa2…

saking lamanya gwe basa basi ama Lisa ya udah gwe mulai tanya ama Lisa, emang loe berantem knapa sih ama Reza tadi di kantin?? Lisa Jawab, cuma gara2 tadi di kantin lupa pake pin kemeja Tom jadi BH gwe keliatan dari sela-sela kancing kemeja… pas gwe perhatiin, ah enggak juga kok Lis.. gak keliatan… Ya iyalah kalo gwe berdiri gak keliatan.. nih liat ya gwe duduk.!! Pas Lisa duduk, Woww!!! bener2 keliatan Buah dadanya Lisa… ya gwe akui dada Lisa lebih gede dari dada cwe gwe.. tp tampang masih cakepan cwe gwe.. ya kalo di bandingin gak beda jauh2 banget lah ma Lisa… karna gwe liat dada Lisa burung gwe jadi bangun lagi dan siap berkicau… saat itu Lisa ketawa gara2 gwe megangin burung gwe… Lisa bilang, knapa Tom kok di pegangin??? takut terbang ya?? ah loe bisa aja Lis!!!! udah jangan di pegangin Tom nanti kalo terbang gwe yang tangkepin deh!!! gwe gak tau ada setan apa di pikiran gwe tanpa pikir panjang gwe langsung sambung kata2 lisa… bener nih kalo terbang mau loe tangkepin Lis?? iya suer deh gwe tangkepin… kalo kabur gwe gak dapet apa2 donk?? gwe pura2 bego nanya ke Lisa, maksud loe gak dapet apa2 apaan Lis?? tiba2 Lisa senyum trus duduk samping gwe… dia megang gantiin tangan gwe yang lagi megangin burung yang siap berkicau.. ih Tom, punya loe gede juga ya?? gak kaya punya Reza kecil banget!! dalam hati gwe mikir, apa yang terjadi ya udahlah terjadilah… gwe dah gak mikirin cwe gwe lagi ama temen baik gwe Reza..

ya iyalah gede… emang muat Lis di lobang loe?? yeee yang sempit kan makin enak Tom?? masa sih Lis? boleh nih gwe tes?? silahkan lah kalo loe mau.. tp pelan2 ya.. masih perawan nih gwe..!! (sambil bercanda ngomongnya). tanpa gwe suruh tiba2 lisa memasukan mulutnya ke ke burung gwe… ah… nikmat banget deh pokoknya!! gak gwe sangka isapan Lisa lebih hebat dari pada Donna…. ah Lisss… loe hebat ya soal isep2?? Lisa gak bilang apa2… dia terus aja karaoke di penis gwe… ya karna gwe juga bisa ngerti kebutuhan cwe gwe suruh Lisa tidur di tempat tidur dan gwe mulai memainkan bibir memeknya… wah!! ternya udah basah!!! ya gwe gak pikir2 lagi terus aja gwe jilat terus… Tom…. enak banget sih…… terus Tom… terussss…. ahhh.. arghh…. Lisa mendesah tanpa karuan.. itu membuat gwe makin ganas memainkan memeknya… memeknya gwe sedot ampe dalem2.. ah Tommy…. loe nakal banget sih…. enak ya Donna bisa dapettin loe?? loe emang perfect bgt deh Tom!! ahhh.. Tom.. gwe udah gak tahann…. ayo donk.. masukin aja jangan di jilat terus…. ya udah gwe langsung masukin burung gwe ke liang kenikmatan…. gwe masukin pelan2… gwe enjot… gwe enjot lagi… dah… ah!!! masuk semua…. Lisa makin hot dengan goyangan badannya karna Lisa udah terangsang banget!! Tom, punya loe gede banget!! makasih ya Tom… udahlah Lis, yang penting loe bisa seneng gak sedih kaya tadi.. iyaaa To….m…m… ah Tomm…mm.m… lebih cepat goyangnyaaa….. gwe udah gak tahann…. Tommm..mm…y… trusss… terus Tom..!!! Lisss… gwe juga udah mau keluar nih…… gwe buang dimana nanti?? sambil mendesah Lisa bilang kalo udah mau keluar bilang ya Tom… nanti gwe isep lagi terus loe buang di dalem mulut gwe aja… jangan di memek gwe… iyaaaaaa Liss…. ah.. Liss.. gwe dah mau keluar nih say……. dengan cepat Lisa langsung memasukan kontol gwe ke lubang mulutnya…. akhirnyaa.. cRooTTttt !!! gwe gak tau deh brapa kali peju gwe muncrat di mulutnya.. yang pasti banyak banget!! Peju gwe di telan semua ama Lisa….

Tom, gwe gak sangka… Loe liar banget ya?? (sambil senyum). ah loe bisa aja Lis… eh Lis, jangan ampe Donna tau ya?? iya Tommy sayang.. jangan ampe Reza tau juga.. ini rahasia kita berdua aja…

eh Tom, hmmm… lain kali kita bisa gini lagi gak Tom?? ya kapan aja Loe mau gwe siap kok… Tp jangan sampe ketau ama cwe gwe aja..

sambil ketaw Lisa bilang iya Tom loe tenang aja….

tanpa gwe sadar udah jam 6 sore.. gwe antar Lisa pulang dan besokan harinya gwe ama Lisa seperti biasa aja di sekolah… karna gwe tau Lisa bukan cwe baik2 melainkan cwe gampangan… sampe kebesokan harinya lagi gwe ama Lisa sering melakukan hubungan intim dengan alasan curhat di rumah gwe… skarang gwe udah putus ama Donna dan kita2 juga udah pada lulus.. kita gak satu kuliah tp gwe ama Donna sama satu tempat kuliah dan status Donna hanya teman gwe aja.. walaupun gwe ama Lisa udah beda tempat kuliah, gwe sering hubungi Lisa dan Lisa juga sering hubungi gwe… tiap gwe ketemuan ama Lisa kita selalu berhungan intim.. tp bukan karna cinta atau sayang.. hubungan kita berdua cuma sekedar Fun aja…
04.24 | 0 komentar | Read More

Di Tengah Hujan

Cerita pengalaman seks ditengah hujan yang lebat memang sangat membara. Ditengah dingin cuaca, Ngeseks mesum dengan nafsu birahi yang sangat membara dapat membuat hangat tubuh yang dingin. Dengan dewasa pengalaman seks mesum yang lebih nikmat, suasana dingin menjadi sensasi untuk mendapatkan hal baru. Cerita-cerita tentang ngeseks memang sangat banyak, namun ketika bercerita ngeseks mesum dibwah hujan lebat bersama wanita cewek bugil seksi membuat birahi sangat terpuaskan.
Payudara besar cewek yang hampir bugil itu menjadi santapan mulut pria yang sangat berpengalaman dalam hubungan seksual. Cewek bugil seksi yang selalu diimajinasikan oleh seorang pemuda, menjadi pemuas nafsu dikala dinging merasuk. Tak perlu membuat jadwal pertandingan seks karena baginya adalah hasil pertandingan seks tersebut yang tidak direkam ke video 3gp terbaru. Seperti apa cerita dewasa mesum ini selengkapnya, baca selanjutnya.
Awan semakin gelap, mendung yang menggantung menandakan sebentar lagi akan hujan. Pakde Marto menyuruh Surti membenahi ceret air dan rantang makanannya kemudian mereka bergegas pulang sebelum hujan turun. Surti adalah istri Iding keponakan Pakde Marto yang sejak kecil ikut Pakde-nya. Pakde Marto ini adalah kakak bapaknya yang tidak mempunyai anak sendiri. Dan sesudah menikah pasangan itu tetap mengikuti Pakde-nya yang sangat sayang pada keponakannya. Sehari-hari mereka bahu membahu mencari sesuap nasi membantu Pakde di sawah atau Budenya yang buka warung kecil-kecilan di rumahnya. Seperti biasanya menjelang siang Surti mengantarkan makanan dan minuman Pakde-nya yang kerja di sawah. Hari itu kebetulan Iding pergi ke kota untuk membeli pupuk dan bibit tanaman.

Rupanya hujan keburu turun sementara mereka masih di tengah hamparan sawah desa yang sangat luas itu. Hujan ini luar biasa lebatnya. Disertai dengan angin yang menggoyang keras dan nyaris merubuhkan pohon-pohon di sawah hujan kali ini sungguh luar biasa besarnya. Sebagai petani yang telah terbiasa denagn kejadian semacam ini dengan enteng Pakde Marto membabat daun pisang yang lebar untuk mereka gunakan sebagai payung guna sedikit mengurangi terpaan air hujan yang jatuh di wajah mereka yang menghambat pandangan mata.


Sambil memanggul cangkulnya Pakde Marto merangkul bahu Surti erat-erat agar payung daun pisangnya benar-benar bisa melindungi mereka. Surti merasakan kehangatan tubuh Pakde-nya. Demikian pula Pakde Marto merasakan kehangatan tubuh Surti yang istri keponakannya itu. Jalan pematang langsung menjadi licin sehingga mereka berdua tidak bisa bergerak cepat. Sementara pelukan mereka juga bertambah erat karena Pakde Marto khawatir Surti jatuh dari pematang. Kadang-kadang terjadi pergantian, satu saat Surti yang memeluki pinggang Pakde-nya. Tiba-tiba ada "setan lewat" yang melihat mereka dan langsung menyambar ke duanya.


Saat Pakde Marto memeluk bahu Surti tanpa sengaja beberapa kali menyentuh payudaranya. Pada awalnya hal itu tidak mempengaruhi Pakde, tetapi hawa dingin yang menyertai hujan itu ternyata mendatangkan gelisah di hatinya. Kegelisahan yang bisa merubah perasaannya. Saat pertama kali Pakde Marto tanpa sengaja menyentuh payudara istri keponakannya dia agak kaget, khawatir Surti menganggap dirinya berlaku tidak sopan. Tetapi saat yang kedua kali dan kemudian dengan sadar menyentuhnya kembali untuk yang ketiga kalinya dia tidak melihat adanya reaksi menolak dari Surti, pikiran Pakde mulai dirasuki "setan lewat" tadi. Dan pelan-pelan tetapi pasti kontol di balik kolornya mulai menghangat dan bangun. Toh rasa ke-imanan Pakde Marto masih berusaha bilang "jangan" walaupun tak bisa dipungkiri bahwa dalam hatinya dia mengharapkan sesuatu keajaiban, mungkin semacam sinyal, yang datang dari Surti.


Demikian pula Surti yang merasakan beberapa kali payudaranya tersentuh, pada awalnya dia tidak sepenuhnya menyadari. Tetapi saat tersentuh untuk yang kedua kalinya dia mulai mengingat sentuhan yang sama yang sering dilakukan oleh suaminya Iding. Biasanya kalau Iding menyentuh macam itu pasti ada maunya. Pikiran lugu Surti langsung disambar "setan lewat" lagi. Adakah macam kemauan suaminya itu juga melanda kemauan Pakde-nya di hari hujan yang dingin ini? Tetapi sebagaimana Pakde Marto, Surti juga berusaha menepis pikiran buruknya dan berkata dalam hatinya "nggak mungkin, ah". Walaupun dibalik sanggahannya sendiri itu bersemi di hati kecilnya, akankah datang sebuah keajaiban yang membuat tangan Pakde-nya menyentuh payudaranya lagi? Maka, ketika pelukkan Pakde Marto pada bahu Surti yang semakin mengetat dan menyebabkan sentuhan ke tiga benar-benar hadir, hal itu sudah merupakan awal kemenangan sang "setan lewat" tadi.

Demikian pula saat hujan yang semakin deras dan jalan yang semakin licin hingga mengharuskan mereka menyesuaikan dan mengganti posisi pelukan agar tidak jatuh dari pematang, pelukan Surti dari arah punggung pada pinggang dan dada Pakde-nya mendorong lajunya bisikkan "setan lewat" tadi. Buah dada Surti yang empuk menempel hangat di punggung dan tangan halus Surti yang menyentuh perut dan dada, membuat kontol Pakde-nya benar-benar tidak tahu diri. Keras mencuat ke depan seperti cengkal kayu yang menonjol pada sarung anak yang disunat. Untung Surti berada di belakangnya sehingga gangguan teknis itu tidak terlihat olehnya. Pakde Marto mulai mencari-cari apa jalan keluarnya?

Demikian pula yang dirasakan Surti saat memeluki Pakde-nya dari belakang. Tangannya yang ketat memeluk perut dan dada Pakde-nya membuat buah dadanya demikian gatal saat tergosok-gosok punggung Pakde yang tidak mungkin terdiam karena setiap langkah kaki Pakde-nya pasti akan menggoncang seluruh bagian-bagian tubuhnya. Kegatalan macam itu menjadi terasa nikmat saat Surti mengingat bagaimana Iding suaminya sering menggosokkan wajahnya ke payudaranya. Mudah-mudahan Pakde-nya tidak keberatan dengan pelukannya, demikian pikiran lugu Surti. Kemudian sang "setan lewat" kembali membisikkan ke dalam pikirannya, mudah-mudahan rumahnya semakin menjauh dan hujannya semakin menderas, yang disusul dengan seringai gigi taringnya karena gembira melihat usahanya telah meraih kemenangannya secara mutlak. Sekarang tinggal menggiring Pakde dan keponakkan mantunya ini menuju ke ke sentuhan setannya yang terakhir.

Hujan yang demikian hebat ini membuat jam 2 siang hari bolong itu gelap serasa menjelang maghrib. Awan gelap masih memenuhi langit. Dan lebih seram lagi kilat dan petir ikut menyambar-nyambar. Pikiran Pakde Marto dan Surti sekarang adalah mencari tempat berteduh. Pakde Marto tidak kehilangan arah. Dia tahu persis kini berada di petak sawah milik Sarmin tetangganya. Kalau dia belok sedikit ke kanan dia akan menjumpai dangau untuk berteduh. Dan benar, begitu Pakde Marto yang dalam pelukan Surti belok kekanan nampak bayangan kehitaman berdiri tegak di depan jalannya. Mereka berdua memutuskan untuk berhenti dulu menunggu hujan sedikit reda.

Surti bisa menurunkan beban gendongannya ke amben bambu yang ada di situ. Kini mereka saling memandang. Surti memandang kaos oblong Pakde-nya yang basah kuyup lengket di tubuhnya dan menunjukkan bayangan dadanya yang gempal berotot. Sementara Pakde Marto melihat kebaya dan kain di tubuh Surti yang istri keponakannya basah kuyup dan membuat bayangan tubuhnya yang sintal dengan payudaranya yang menggembung ke depan. Dengan setengah mati Pakde Marto berusaha menyembunyikan tonjolan kontolnya pada celana kolornya.


Pakde Marto memperkirakan jarak dangau itu ke dusunnya kira-kira "se-udut"-an, sebuah perhitungan yang biasa dipakai orang desa mengenai jarak dekat atau jauh diukur dari sebatang rokok yang dinyalakan (dihisap). Mungkin sekitar 6 s/d 8 menit orang jalan kaki. Sementara itu tak bisa diharapkan akan ada orang lewat sawah ini dalam keadaan hujan macam begini. Pandangan mata secara jelas ke depan tidak lebih dari 5 meter, selebihnya kabut hujan yang menyelimuti seluruh hamparan sawah itu.


Dalam usaha menghindar percikan hujan di dangau Pakde Marto dan Surti harus duduk meringkuk ketengah amben yang relatip sangat sempit yang tersedia. Artinya seluruh anggota tubuh harus naik ke amben sehingga mau tidak mau mereka harus kembali berhimpitan. Dan sang "setan lewat" kembali hadir menawarkan berbagai pertimbangan dan keputusan.


Surti yang ditimpa hujan dan hawa dingin menggigil. Demikian juga Pakde Marto. Untuk menunjukkan rasa iba pada istri keponakannya Pakde meraih pundak Surti dan membagikan kehangatan tubuhnya. Dan untuk menghormati maksud baik Pakde-nya Surti menyenderkan kepalanya pada dadanya. Walaupun pakaian mereka serba basah tetapi saat tubuh-tubuh mereka nempel kehangatan itu terjadi juga. Dan pelukan yang ini sudah berbeda dengan pelukan saat awal Pakde Marto membagi payung daun pisangnya tadi. Pelukan yang sekarang ini sudah terkontaminasi secara akumulatip oleh campur tangan sang "setan lewat" tadi.


Saat kepala Surti terasa pasrah bersender pada dada, jantung Pakde Marto langsung tidak berjalan normal. Dan tonjolan di celananya membuat susah memposisikan duduknya. Demikian pula bagi Surti. Saat Pakde-nya meraih bahunya untuk memberikan kehangatan pada tubuhnya dia merasakan seakan Iding yang meraihnya. Dengan wajahnya yang mendongak pasrah menatap ke wajah Pakde-nya Surti semakin menggigil hingga kedengaran giginya yang gemelutuk beradu. Dan inilah saatnya "sang setan" lewat melemparkan bisikan racunnya yang terakhir kepada Pakde Marto.

"Ambil!, Ambil!, Ambil!, Ambil!", dan Pakde tahu persis maksudnya.

Seperti bunga layu yang jatuh dari tangkainya, wajah Pakde Marto langsung jatuh merunduk. Bibirnya menjemput bibir Surti yang istri keponakkannya itu. Dan desah-desah lembut dari dua insan manusia itu, membuat seluruh rasa dingin dari baju yang basah dan tiupan angin menderu akibat hujan lebat itu musnah seketika dari persada Pakde Marto maupun persada Surti. Mereka kini saling melumat. Sang "setan lewat" cepat berlalu untuk menghadap atasannya dengan laporan bahwa otomatisasi setannya sudah ditinggal dan terpasang dalam posisi "ON" pada setiap dada korbannya. Kini dia berhak menerima bintang kehormatan para setan.


Dan lumatan lembut menjadi pagutan liar. Kini lidah dan bibir mereka saling berebut jilatan, isepan dan kecupan. Dan bukan hanya sebatas bibir. Jilatan, isepan dan kecupan itu merambah dan menghujan ke segala arah. Keduanya menggelinjang dalam gelombang dahsyat birahi. Surti menggeliatkan tubuhnya minta agar Pakde-nya cepat merangkulnya. Pakde Marto sendiri langsung memeluki dada Surti. Wajahnya merangsek buah dadanya. Dikenyotnya baju basah penutup buah dadanya. Surti langsung mengerang keras-keras mengalahkan suara hujan. Kaki-kakinya menginjak tepian amben sebagai tumpuan untuk mengangkat-angkat pantatnya sebagai sinyal untuk Pakde-nya bahwa dia sudah menunggu tindak lanjut operasi cepat Pakde-nya.


Pakde Marto memang mau segalanya berjalan cepat. Waktu mereka tidak banyak. Segalanya harus bisa diraih sebelum hujan reda. Dan operasi ini tidak memerlukan prosedur formal. Kain penutup tubuh Surti cukup dia singkap dengan tangannya hingga ke pinggang. Nonok Surti yang menggembung nampak sangat ranum dalam bayangan jembutnya yang lembut tipis. Kelentitnya nampak ngaceng mengeras menunggu lumatan lidahnya. Tak ada yang ditunggu, wajah Pakde Marto langsung merangsek ke kemaluan ranum itu. Bibir dan lidahnya melumat dan menghisap seluruh perangkat kemaluan itu. Tangan Surti menangkap kepala Pakdenya, menekannya agar lumatan dan jilatan Pakde-nya lebih meruyak masuk ke dalam vaginanya. Cairan birahi yang asin hangat bercampur dengan air hujan dia sedot dan telan untuk membasahi kerongkongannya yang kering kehausan. Itil Surti dia lumat dan gigit dengan sepenuh gemasnya. Tekanan Surti pada kepalanya berubah jadi jambakkan pada rambutnya. Pantat Surti terus naik-naik menjemput bibir dan lidah Pakde-nya. Tetapi Pakde Marto tidak akan mengikuti kemauan idealnya. Hitungan waktu mundurnya sudah dimulai.


Kini Pakde Marto yang sudah meninggalkan celana kolornya di rerumputan pematang merangkak ke atas dan memeluki tubuh basah hujan Surti. Kontolnya berayun-ayun mencari sasarannya. Paha Surti yang hangat langsung menjepit tubuh Pakde-nya dengan nonoknya yang tepat terarah ke ujung kontol Pakde Marto. Untuk langkah lanjutannya, mereka berdua, baik yang senior maupun yang yunior sudah terampil dengan sendirinya. Ujung kontol Pakde Marto sudah tepat berada di lubang vagina istri keponakannya. Mereka telah siap melakukan manuver akhir sambil menunggu hujan reda. Dan saat mereka saling dorong, kemaluan Pakde Marto langsung amblas ditelan vagina Surti. Sambil bibir-bibir mereka saling melumat, Pakde Sastro mengayun dan Surti menggoyang. Kontol dan vagina Surti bertemu dalam kehangatan seksual birahi ruang luar, ditengah derasnya hujan, tiupan angin dan kilat serta petir yang menyambar-nyambar dengan disaksikan oleh segenap dangau yang lengkap dengan berisik ambennya, oleh belalang yang ikut berteduh di atapnya, oleh kodok yang bersuka ria menyambut hujan, oleh wereng yang berlindung di daunan padi yang sedang menguning, oleh baju-baju mereka yang basah dan lengket di badan.


Pakde Marto mempercepat ayunan kontolnya pada lubang kemaluan Surti. Walaupun dia sangat kagum sekaligus merasai nikmat yang sangat dahsyat atas penetrasi kontolnya pada lubang vagina Surti yang serasa perawan itu, dia tetap "concern" dengan waktu. Surti yang menikmati legitnya kontol Pakde-nya menggelinjang dengan hebatnya. Dia juga ingin selekasnya meraih orgasmenya. Genjotan kontol Pakde-nya yang semakin cepat pada kemaluannya mempercepat dorongan untuk orgasmenya. Kini dia merasakan segalanya telah siap berada di ujung perjalanan. Dan dengan jambakan tangannya pada rambut Pakde Marto, bak kuda betina yang lepas dari kandangnya Surti memacu seluruh saraf-saraf pekanya. Kedua kakinya dia jejakkan keras-keras pada tepian amben dangau hingga pantatnya terangkat tinggi untuk menelan seluruh batang kontol Pakde Marto dan datanglah malaikat nikmat merangkum seluruh otot, daging dan tulang belulang Surti. Cairan birahi Surti muncrat melebihi derasnya hujan siang itu. Terus muncrat-muncrat yang diikuti dengan pantatnya yang terus naik-naik menjemputi kontol Pakde Marto yang juga terus mempercepat sodokkannya untuk mengejar kesempatan meraih orgasme secara berbarengan dengan orgasme Surti.


Dan pada saat puncratan cairan vagina Surti mulai surut kontol Pakde Marto yang masih kencang mengayun vagina Surti tiba-tiba berkedut keras. Kedutan besar pertama menumpahkan bermili-mili liter air mani yang kental lengket dari kantong spermanya. Dan kedutan berikutnya merupakan kedutan pengiring yang menguras habis kandungan sperma dari kantongnya. Sesaat kemudian bersamaan dengan surutnya hujan mereka berdua Pakde Marto dan Surti yang istri keponakannya terengah-engah dan rebah. Amben dangau itu nyaris terbongkar. Bambu-bambunya ada yang lepas terjatuh. Mereka kini kegerahan dalam dinginnya sisa hujan. Keringat mereka bercucuran rancu dengan air hujan yang membasahi sebelumnya. Pakde Marto dan Surti telah meraih kepuasan yang sangat dahsyat. Pelan-pelan mereka bangkit dari amben dan turun ke pematang kembali. Surti membetulkan letak kain dan kebayanya. Pakde Marto memakai celana kolornya yang basah jatuh di pematang dan kembali meraih cangkulnya. Langit yang cepat cerah kembali nampak biru dengan sisa awan yang berarak menyingkir. Pohon kelapa di dusunnya nampak melambai-lambai menanti kepulangannya. Surti dan Pakde Sastro yakin bahwa Bude maupun Iding pasti cemas pada mereka yang tertahan hujan ini. Pakde sudah membayangkan pasti istrinya telah memasak air untuk kopinya lengkap dengan singkong bakar kesukaannya. Dan dalam bayangan Surti, Iding pasti telah sangat merindukannya untuk bercumbu di siang hari. Suara kodok di sawah mengantarkan mereka pulang ke rumahnya.
04.21 | 0 komentar | Read More

Cerita Dewasa Seks Janda Kembang Bikin Gairah Naik

Cerita Dewasa Seks Janda Kembang Bikin Gairah Naik
Telah belasan tahun berpraktek aku di kawasan kumuh ibu kota, tepatnya di kawasan Pelabuhan Rakyat di Jakarta Barat. Pasienku lumayan banyak, namun rata-rata dari kelas menengah ke bawah. Jadi sekalipun telah belasan tahun aku berpraktek dengan jumlah pasien lumayan, aku tetap saja tidak berani membina rumah tangga, sebab aku benar-benar ingin membahagiakan isteriku, bila aku memilikinya kelak, dan kebahagiaan dapat dengan mudah dicapai bila kantongku tebal, simpananku banyak di bank dan rumahku besar.

Namun aku tidak pernah mengeluh akan keadaanku ini. Aku tidak ingin membanding-bandingkan diriku pada Dr. Susilo yang ahli bedah, atau Dr. Hartoyo yang spesialis kandungan, sekalipun mereka dulu waktu masih sama-sama kuliah di fakultas kedokteran sering aku bantu dalam menghadapi ujian. Mereka adalah bintang kedokteran yang sangat cemerlang di bumi pertiwi, bukan hanya ketenaran nama, juga kekayaan yang tampak dari Baby Benz, Toyota Land Cruiser, Pondok Indah, Permata Hijau, Bukit Sentul dll.


Dengan pekerjaanku yang melayani masyarakat kelas bawah, yang sangat memerlukan pelayanan kesehatan yang terjangkau, aku memperoleh kepuasan secara batiniah, karena aku dapat melayani sesama dengan baik. Namun, dibalik itu, aku pun memperoleh kepuasan yang amat sangat di bidang non materi lainnya.


Suatu malam hari, aku diminta mengunjungi pasien yang katanya sedang sakit parah di rumahnya. Seperti biasa, aku mengunjunginya setelah aku menutup praktek pada sekitar setengah sepuluh malam. Ternyata sakitnya sebenarnya tidaklah parah bila ditinjau dari kacamata kedokteran, hanya flu berat disertai kurang darah, jadi dengan suntikan dan obat yang biasa aku sediakan bagi mereka yang kesusahan memperoleh obat malam malam, si ibu dapat di ringankan penyakitnya.


Saat aku mau meninggalkan rumah si ibu, ternyata tanggul di tepi sungai jebol, dan air bah menerjang, hingga mobil kijang bututku serta merta terbenam sampai setinggi kurang lebih 50 senti dan mematikan mesin yang sempat hidup sebentar. Air di mana-mana, dan aku pun membantu keluarga si ibu untuk mengungsi ke atas, karena kebetulan rumah petaknya terdiri dari 2 lantai dan di lantai atas ada kamar kecil satu-satunya tempat anak gadis si ibu tinggal.


Karena tidak ada kemungkinan untuk pulang, maka si Ibu menawarkan aku untuk menginap sampai air surut. Di kamar yang sempit itu, si ibu segera tertidur dengan pulasnya, dan tinggallah aku berduaan dengan anak si ibu, yang ternyata dalam sinar remang-remang, tampak manis sekali, maklum, umurnya aku perkirakan baru sekitar awal dua puluhan.


“Pak dokter, maaf ya, kami tidak dapat menyuguhkan apa apa, agaknya semua perabotan dapur terendam di bawah”, katanya dengan suara yang begitu merdu, sekalipun di luar terdengar hamparan hujan masih mendayu dayu.

“Oh, enggak apa-apa kok Dik”, sahutku.
Dan untuk melewati waktu, aku banyak bertanya padanya, yang ternyata bernama Sri.

Ternyata Sri adalah janda tanpa anak, yang suaminya meninggal karena kecelakaan di laut 2 tahun yang lalu. Karena hanya berdua saja dengan ibunya yang sakit-sakitan, maka Sri tetap menjanda. Sri sekarang bekerja pada pabrik konveksi pakaian anak-anak, namun perusahaan tempatnya bekerja pun terkena dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan.


Saat aku melirik ke jam tanganku, ternyata jam telah menunjukkan setengah dua dini hari, dan aku lihat Sri mulai terkantuk-kantuk, maka aku sarankan dia untuk tidur saja, dan karena sempitnya kamar ini, aku terpaksa duduk di samping Sri yang mulai merebahkan diri.


Tampak rambut Sri yang panjang terburai di atas bantal. Dadanya yang membusung tampak bergerak naik turun dengan teraturnya mengiringi nafasnya. Ketika Sri berbalik badan dalam tidurnya, belahan bajunya agak tersingkap, sehingga dapat kulihat buah dadanya yang montok dengan belahan yang sangat dalam. Pinggangnya yang ramping lebih menonjolkan busungan buah dadanya yang tampak sangat menantang. Aku coba merebahkan diri di sampingnya dan ternyata Sri tetap lelap dalam tidurnya.


Pikiranku menerawang, teringat aku akan Wati, yang juga mempunyai buah dada montok, yang pernah aku tiduri malam minggu yang lalu, saat aku melepaskan lelah di panti pijat tradisional yang terdapat banyak di kawasan aku berpraktek. Tapi Wati ternyata hanya nikmat di pandang, karena permainan seksnya jauh di bawah harapanku. Waktu itu aku hampir-hampir tidak dapat pulang berjalan tegak, karena burungku masih tetap keras dan mengacung setelah ’selesai’ bergumul dengan Wati. Maklum, aku tidak terpuaskan secara seksual, dan kini, telah seminggu berlalu, dan aku masih memendam berahi di antara selangkanganku.


Aku mencoba meraba buah dada Sri yang begitu menantang, ternyata dia tidak memakai beha di bawah bajunya. Teraba puting susunya yang mungil. dan ketika aku mencoba melepaskan bajunya, ternyata dengan mudah dapat kulakukan tanpa membuat Sri terbangun. Aku dekatkan bibirku ke putingnya yang sebelah kanan, ternyata Sri tetap tertidur. Aku mulai merasakan kemaluanku mulai membesar dan agak menegang, jadi aku teruskan permainan bibirku ke puting susu Sri yang sebelah kiri, dan aku mulai meremas buah dada Sri yang montok itu. Terasa Sri bergerak di bawah himpitanku, dan tampak dia terbangun, namun aku segera menyambar bibirnya, agar dia tidak menjerit. Aku lumatkan bibirku ke bibirnya, sambil menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Terasa sekali Sri yang semula agak tegang, mulai rileks, dan agaknya dia menikmati juga permainan bibir dan lidahku, yang disertai dengan remasan gemas pada ke dua buah dadanya.


Setalah aku yakin Sri tidak akan berteriak, aku alihkan bibirku ke arah bawah, sambil tanganku mencoba menyibakkan roknya agar tanganku dapat meraba kulit pahanya. Ternyata Sri sangat bekerja sama, dia gerakkan bokongnya sehingga dengan mudah malah aku dapat menurunkan roknya sekaligus dengan celana dalamnya, dan saat itu kilat di luar membuat sekilas tampak pangkal paha Sri yang mulus, dengan bulu kemaluan yang tumbuh lebat di antara pangkal pahanya itu.


Kujulurkan lidahku, kususupi rambut lebat yang tumbuh sampai di tepi bibir besar kemaluannya. Di tengah atas, ternyata clitoris Sri sudah mulai mengeras, dan aku jilati sepuas hatiku sampai terasa Sri agak menggerakkan bokongnya, pasti dia menahan gejolak berahinya yang mulai terusik oleh jilatan lidahku itu.


Sri membiarkan aku bermain dengan bibirnya, dan terasa tangannya mulai membuka kancing kemejaku, lalu melepaskan ikat pinggangku dan mencoba melepaskan celanaku. Agaknya Sri mendapat sedikit kesulitan karena celanaku terasa sempit karena kemaluanku yang makin membesar dan makin menegang.


Sambil tetap menjilati kemaluannya, aku membantu Sri melepaskan celana panjang dan celana dalamku sekaligus, sehingga kini kami telah bertelanjang bulat, berbaring bersama di lantai kamar, sedangkan ibunya masih nyenyak di atas tempat tidur.


Mata Sri tampak agak terbelalak saat dia memandang ke arah bawah perutku, yang penuh ditumbuhi oleh rambut kemaluanku yang subur, dan batang kemaluanku yang telah membesar penuh dan dalam keadaan tegang, menjulang dengan kepala kemaluanku yang membesar pada ujungnya dan tampak merah berkilat.


Kutarik kepala Sri agar mendekat ke kemaluanku, dan kusodorkan kepala kemaluanku ke arah bibirnya yang mungil. Ternyata Sri tidak canggung membuka mulutnya dan mengulum kepala kemaluanku dengan lembutnya. Tangan kanannya mengelus batang kemaluanku sedangkan tangan kirinya meremas buah kemaluanku. Aku memajukan bokongku dan batang kemaluanku makin dalam memasuki mulut Sri. Kedua tanganku sibuk meremas buah dadanya, lalu bokongnya dan juga kemaluannya. Aku mainkan jariku di clitoris Sri, yang membuatnya menggelinjang, saat aku rasakan kemaluan Sri mulai membasah, aku tahu, saatnya sudah dekat.


Kulepaskan kemaluanku dari kuluman bibir Sri, dan kudorong Sri hingga telentang. Rambut panjangnya kembali terburai di atas bantal. Sri mulai sedikit merenggangkan kedua pahanya, sehingga aku mudah menempatkan diri di atas badannya, dengan dada menekan kedua buah dadanya yang montok, dengan bibir yang melumat bibirnya, dan bagian bawah tubuhku berada di antara kedua pahanya yang makin dilebarkan. Aku turunkan bokongku, dan terasa kepala kemaluanku menyentuh bulu kemaluan Sri, lalu aku geserkan agak ke bawah dan kini terasa kepala kemaluanku berada diantara kedua bibir besarnya dan mulai menyentuh mulut kemaluannya.


Kemudian aku dorongkan batang kemaluanku perlahan-lahan menyusuri liang sanggama Sri. Terasa agak seret majunya, karena Sri telah menjanda dua tahun, dan agaknya belum merasakan batang kemaluan laki-laki sejak itu. Dengan sabar aku majukan terus batang kemaluanku sampai akhirnya tertahan oleh dasar kemaluan Sri. Ternyata kemaluanku cukup besar dan panjang bagi Sri, namun ini hanya sebentar saja, karena segera terasa Sri mulai sedikit menggerakkan bokongnya sehingga aku dapat mendorong batang kemaluanku sampai habis, menghunjam ke dalam liang kemaluan Sri.


Aku membiarkan batang kemaluanku di dalam liang kemaluan Sri sekitar 20 detik, baru setelah itu aku mulai menariknya perlahan-lahan, sampai kira-kira setengahnya, lalu aku dorongkan dengan lebih cepat sampai habis. Gerakan bokongku ternyata membangkitkan berahi Sri yang juga menimpali dengan gerakan bokongnya maju dan mundur, kadangkala ke arah kiri dan kanan dan sesekali bergerak memutar, yang membuat kepala dan batang kemaluanku terasa di remas-remas oleh liang kemaluan Sri yang makin membasah.


Tidak terasa, Sri terdengar mendasah dasah, terbaur dengan dengusan nafasku yang ditimpali dengan hawa nafsu yang makin membubung. Untuk kali pertama aku menyetubuhi Sri, aku belum ingin melakukan gaya yang barangkali akan membuatnya kaget, jadi aku teruskan gerakan bokongku mengikuti irama bersetubuh yang tradisional, namun ini juga membuahkan hasil kenikmatan yang amat sangat. Sekitar 40 menit kemudian, disertai dengan jeritan kecil Sri, aku hunjamkan seluruh batang kemaluanku dalam dalam, kutekan dasar kemaluan Sri dan seketika kemudian, terasa kepala kemaluanku menggangguk-angguk di dalam kesempitan liang kemaluan Sri dan memancarkan air maniku yang telah tertahan lebih dari satu minggu.


Terasa badan Sri melamas, dan aku biarkan berat badanku tergolek di atas buah dadanya yang montok. Batang kemaluanku mulai melemas, namun masih cukup besar, dan kubiarkan tergoler dalam jepitan liang kemaluannya. Terasa ada cairan hangat mengalir membasahi pangkal pahaku. Sambil memeluk tubuh Sri yang berkeringat, aku bisikan ke telinganya, “Sri,
04.19 | 0 komentar | Read More

Cerita Dewasa Gadis Muda Kota Pantai

Sabtu malam minggu, 20:00 WIB, menjelang liburan sekolah. Dengan kondisi badan yang cukup letih, kucoba konsentrasikan perhatian untuk mengendalikan mobil kecil biruku di keramaian jalan Tol Jagorawi. Masa liburan sekolah menyebabkan jalan bebas hambatan itu menjadi sangat ramai dan padat. Masih terbayang lambaian tangan istri dan ketiga anakku melepas kepergianku, pulang kembali ke kota dimana kami menetap. Aku yang tidak memperoleh cuti, terpaksa tidak dapat menemani mereka yang kusayangi, berlibur di kota tempat mertuaku tinggal.
Lepas gerbang tol, kubelokkan mobil ke kiri, menuju Ciawi. Kondisi lalulintas yang masih cukup lancar walaupun padat beriringan, membuatku lega. 2-3 Jam lagi tentunya aku sudah sampai di rumah dan tidur dengan nyaman.

Keadaan langsung berubah beberapa kilometer menjelang Cipayung. Lalulintas yang semula lancar, mendadak berhenti sama sekali. Jalan menuju Puncak dipenuhi kendaraan sampai 3 jalur, dan belum ada tanda-tanda akan bergerak. Tanpa berpikir dua kali, kuputar kemudi, berbalik arah mengambil jalur Sukabumi. Sambil menggerutu dalam hati, kuperkeras suara radio di mobilku dengan harapan dapat mengusir rasa kantuk.

Di perempatan jalan menuju Sukabumi, mobilku terhalang Angkot yang berhenti seenaknya mencari penumpang. Bahkan supirnyapun tidak berada di belakang kemudi. Kutekan klakson berulang-ulang, sambil berusaha mencari celah untuk melepaskan mobilku dari keruwetan itu. Hampir berhasil ketika aku dikagetkan oleh suara klakson dari sebelah kanan. Kutahu pasti berasal dari Angkot yang berhenti itu. Kurang ajar, sudahlah menghalangi jalan, masih berani pulak membunyikan klakson. Niatku untuk memaki seketika pudar setelah melihat senyum manis dari 2 orang gadis dalam Angkot tersebut. Sambil berulang-ulang menekan tombol klakson, mereka seperti berusaha untuk bertanya melalui gerakan jari dan tangan. Sadar telah berhasil menarik perhatianku, salah seorang dari mereka mengeluarkan kepalanya lewat jendela dan bertanya, "Mau ke Sukabumi ya Om. Boleh ikut?"

Sejenak aku bimbang antara membolehkan atau menolak. Beberapa pertanyaan lain juga berkelebat dalam pikiranku: Apakah mereka baik-baik? Akankah mereka merampokku? Akankah mereka menyusahkanku? selain pikiran-pikiran nakalku setiap melihat wanita.

Akhirnya pikiran nakal dan jiwa petualangku yang menang. Kupinggirkan mobilku sambil menekan tombol Central Lock. Kedua gadis itupun masuk, sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman. Kamipun saling berkenalan dan bertukar nama. Yang seorang bernama Euis dan yang lain bernama Nyai (sebut saja begitu, untuk menggantikan nama-nama sebenarnya yang juga "berbau" Sunda). Mereka berdua tidaklah secantik kesan pertama saat melihatnya, tetapi cukup manis dan menarik. Keduanya masih mengenakan baju seragam SMEA dengan nama salah satu sekolah di Bogor yang tertulis jelas pada Badge di dada. Mereka terlihat masih sangat muda walaupun aku tidak terlalu yakin. Jaman sekarang ini, mudah saja mengubah penampilan dan menyamar untuk menjadi muda. Aku sempat memperhatikan tubuh mereka yang langsing dengan kedua payudara yang baru tumbuh. Pikiran-pikiran nakal langsung menari-nari dalam kepalaku, yang membuat kemaluanku perlahan membesar dan mengeras. Tentunya akan menjadi pengalaman yang menyenangkan bila dapat meniduri mereka berdua. Tapi bagaimana caranya?

Perjalananku menjadi meriah dan ramai. Mereka berdua cerewet sekali, dengan logat asli Jawa Barat yang masih kental. Dari cerita mereka, kutahu bahwa mereka bersekolah di Bogor dan pada saat liburan, mereka pulang ke orang tua mereka di Sukabumi. Dasar pikiran kotor, sesekali kulontarkan kalimat-kalimat yang agak menjurus, yang dibalas dengan cubitan-cubitan. Pembicaraan semakin panas saat aku berhasil membuat mereka bercerita pengalaman masing-masing saat berpacaran. Euis, yang menurutku lebih manis dan seksi, baru saja putus dari pacarnya yang Mahasiswa, sedangkan Nyai masih berhubungan dengan kakak kelasnya. Diluar dugaan, Nyai ternyata sudah sering berhubungan seksual dengan pacarnya, sedangkan Euis baru sampai tahap "Heavy Petting".

Tidak adanya pengawasan di tempat mereka Kost menyebabkan mereka bebas berbuat apa saja. Nyai kehilangan kegadisannya saat hubungan dengan pacarnya baru berjalan 2 bulan. Mereka sengaja bolos sekolah saat itu. Di kamar kost dimana Nyai tinggal, mereka berciuman, saling meraba, meremas, sampai telanjang bulat dan hilang kendali. Hilanglah pula selaput daranya. Nyai bercerita dengan enteng dan terkesan tanpa perasaan bersalah atau menyesal. Dari cara duduknya yang gelisah, aku tahu kalau Euis yang kebetulan berada di bangku depan terpengaruh oleh cerita Nyai. Kupegang tangannya sambil kogoda, "Kenapa? Pengen ya?" Sambil tersipu-sipu dan berusaha menyangkal, Euis mencubiti aku di beberapa bagian badanku. Kutangkap tangannya dan berkata, "Awas lho, kalo sampai kena 'itu' bisa bahaya." "Itu apa?" tanyanya sambil terus mencubit. Pikiranku semakin kacau.

Di kota Cibadak, kubelokkan mobilku ke sebuah rumah makan. Turun dari mobil, kugandeng keduanya, tidak bereaksi. Kurangkul mereka berdua, tidak keberatan. Beberapa pasang mata pengunjung yang melihat kami dengan terheran-heran, tidak kami indahkan. Kami sepakat untuk memesan Sate Kambing sebagai makan malam. Sambil menunggu pesanan datang, kugoda mereka, "Awas lho, abis makan Sate Kambing biasanya pengen nanduk." Mereka tertawa sambil kembali mencubit. Pikiranku terus mencari jalan, bagaimana caranya membawa mereka berdua ke tempat tidur. Jalan ke arah sana kelihatannya sudah agak terbuka, tapi bagaimana kalau mereka menolak? Lalu kabur? Lalu melaporkanku pada pihak berwajib? Bisa runyam. Ini adalah satu cara untuk membuktikan cerita teman-temanku tentang gadis-gadis dari kota tempat asal mereka yang katanya "agak nakal". Kuhabiskan makanku dengan cepat, lalu kugoda mereka. Kugelitik pinggang mereka, kuelus leher mereka, seakan tidak sengaja, kusenggol payudara mereka, dan kuletakkan kedua tanganku di kedua paha yang ada di kanan kiri tempatku duduk. Walau mereka berusaha mengelak, tapi tidak terlihat keberatan atau marah. Mereka tertawa sambil tersipu-sipu dan kadang membalas. Membuat pikiranku semakin tidak menentu.

Kembali ke lalu lintas jalan, aku terus berpikir. Kota Sukabumi semakin dekat, tapi belum juga ketemu akal yang jitu, bagaimana ini?

Dikejauhan terlihat Papan Penunjuk Arah. Terus, ke Sukabumi Kota dan Bandung, kiri Selabintana. Tiba-tiba muncul ide di kepalaku. Kutanya mereka, "Selabintana itu apa? Perkebunan? Sebelah mana Pelabuhan Ratu?" Walaupun aku tahu persis bahwa itu adalah daerah tujuan wisata yang berhawa dingin dan tidak ada hubungannya dengan Pelabuhan Ratu. Mereka berlomba menjelaskan bahwa itu adalah daerah wisata, tempat rekreasi, tempat anak muda Sukabumi pacaran, dan lain sebagainya. Dengan nekad aku bertanya, "Gimana kalau kita ke sana sebentar? Aku penasaran ingin tahu." Tanpa kuduga, mereka tidak keberatan, bahkan terkesan senang. Waktu sudah menunjukkan pukul 22:30. Yess... kelihatannya niatku tercapai.

Segera kubelokkan mobilku ke kiri, lalu kuikuti liku-liku jalan menuju ke tempat itu. Perlahan mulai terlihat beberapa penginapan di kiri kanan jalan. Aku masih khawatir, kalau kubelokkan mobilku masuk ke salah satunya, akankah kedua gadisku ini akan protes?

Saat kulihat penginapan "Se....." yang agak terpisah dari yang lain, nekad kubelokkan mobilku memasuki halamannya. "Kita istirahat dulu ya, capek," kataku sambil keluar dari mobil menuju ruang Receptionis. Setelah membereskan administrasi dan langsung membayar penuh, aku kembali ke mobil sambil membawa kunci kamar. Penginapan ini memungkinkan mobil parkir pas di depan pintu. Kuparkir mobilku, kupastikan semuanya aman, lalu kamipun turun. Kuperhatikan muka mereka, agak kikuk tetapi tetap tidak terlihat menolak. Langkahku tinggal sedikit lagi.

Kamar yang kami masuki cukup besar. Ini adalah kamar termahal di penginapan ini. Terdiri dari 2 tempat tidur berukuran nomor 2, ada TV 21 Inchi, ada kamar mandi dengan air panas, tetapi tanpa AC. Bisa dimaklumi karena udara sekeliling sudah sangat dingin. Kukatakan pada mereka, bahwa mereka berdua tidur di satu tempat tidur, sedang aku di tempat yang lain. "Jangan saling mengganggu ya," kataku pada mereka. Kubuka tasku, kuambil perlengkapan mandi, dan juga piyama. Istriku tidak pernah lupa untuk menyiapkan segalanya. Istriku? Aku adalah pria beristri, lalu, apa yang kukerjakan di kamar ini? Bersama dengan gadis-gadis yang bukan muhrimku? Tapi setan nafsu ternyata lebih kuat. Akupun mandi dengan gejolak dan birahi yang sangat tinggi. Kemaluanku mengacung besar dan keras, ingin diremas, dihisap, lalu masuk ke rongga empuk yang basah dan hangat. Ach, pasti sangat menyenangkan. Kubersihkan dan kusegarkan seluruh tubuhku dengan air hangat. Selesai berhanduk, kusapukan pewangi yang menurutku baunya sangat maskulin ke sekujur tubuhku, termasuk di sekitar kemaluanku.

Tanpa mengenakan pakaian atasan, akupun keluar kamar mandi sambil mengeringkan kepalaku yang berambut cepak dengan handuk. Kubiarkan kedua gadisku melihat otot dan dadaku yang lumayan kekar dan bidang, walaupun tidak dilatih. Dengan sudut mata, kulihat bahwa kedua gadisku terpesona melihat pemandangan yang kusodorkan. Sambil pura-pura protes, kutegur mereka, "Heh!! Bengong aja. Udah sana mandi! Pakai bajuku nich, daripada terus-terusan pakai seragam itu. Kotor khan?" Kulemparkan pada mereka 2 buah Sweater, yang berbentuk leher V. Aku membayangkan, dengan baju hangatku yang pasti kebesaran untuk mereka, dada beserta garis payudara pasti akan terlihat menggemaskan. Seperti terkaget, mereka melompat dari tempat tidur menuju kamar mandi. "Hey, masak mandi berdua?" teriakku, yang tidak diindahkan oleh mereka. Kuhidupkan TV, lalu kubaringkan tubuhku di tempat tidur sambil membayangkan 2 tubuh telanjang yang sedang berlumuran sabun di dalam sana. Kemaluankupun semakin besar, keras dan berdenyut-denyut.

Aku hampir tertidur saat mereka keluar dari kamar mandi, sambil menenteng seragam masing-masing di tangan. Sempat kulihat bahwa mereka berdua tidak lagi menggunakan BH, tapi mungkin masih menggunakan celana dalam. Sayang sekali. Pasti baunya akan menempel kembali ke kemaluan mereka masing-masing. Setelah menggantungkan baju seragam di lemari, mereka naik ke tempat tidur, masuk ke bawah selimut. Muka-muka kedua gadis muda yang sudah bersih dan segar semakin merangsang. Aku harus berhasil meniduri mereka malam ini, tekadku dalam hati.

Aku dan mereka sama-sama diam, sambil menatap TV walaupun aku yakin, pikiran mereka sama dengan pikiranku, tidak tertuju ke tayangan Angin Malam. Suasana di luar sangat sepi, membuat suasana semakin sunyi. Detak jantungku semakin keras, pikiranku semakin tidak menentu, sementara kemaluanku semakin mengeras, besar dan berdenyut. Aku masih khawatir. Akankah mereka teriak? Akankah mereka melawan? Ach, kalau tidak dicoba, bagaimana bisa tau? Kulemparkan bantal ke arah mereka, sambil berkata, "Hey, koq pada diem?" "Abisnya harus ngapain?" tanya mereka. Sambil kurentangkan tangan, aku berkata dengan sedikit nekad, "Mending ke sini yuk, biar anget." Tanpa kusangka, mereka berhamburan naik ke tempat tidurku. Euis di samping kiri, Nyai di samping kanan. Keduanya langsung kurangkul, masuk ke dalam pelukanku. Perlahan tanganku mengelus rambut mereka yang basah (rupanya mereka keramas tadi di dalam), turun ke telinga, leher, tangan, dan dengan sangat perlahan, tanganku yang sudah sangat berpengalaman ini mengarah ke payudara. Sentuhan perlahan dan hati-hati, perlahan menuju ke puncak, ke tonjolan yang semakin lama semakin keras. Kujepit dengan kedua jariku sambil kupelintir perlahan.

Desahan mulai terdengar dari mulut kedua gadisku ini. Kulihat mata mereka terpejam, dengan bibir mungil yang terbuka sedikit, membuatku semakin terangsang. Kucium kening Euis, perlahan turun ke mata, hidung, sampai ke bibirnya. Mulutnya yang wangi pasta gigiku itu kemudian kuciumi. Dengan perlahan dan hati-hati, kutelusuri bibir dan giginya dengan lidahku, lalu kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya. Dia semakin mendesah dan menggelinjang. Kedua tangannya memelukku erat. Sementara itu, Nyai kutarik dan kusandarkan kepalanya ke dadaku. Kuelus rambutnya, belakang lehernya, dan belakang telinganya. Tangannya yang bebas mengelus dadaku, turun ke kedua putting dadaku, lebih turun lagi, dan dengan berani menyelusup ke bawah karet celana piyamaku.

Aku sengaja tidak memakai celana dalam, supaya praktis pikirku. Berani sekali dia. Elusan tangannya yang halus di permukaan batang kemaluanku, membuatku semakin bernafsu. Kepalanya yang menghadap ke bawah perlahan turun. Diturunkannya celana piyamaku, dan perlahan diciumnya kepala batang kemaluanku. Dijilatnya perlahan, kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya yang kecil. Gesekan naik turun membuatku terpaksa mengangkat pinggangku ke atas. Dan itu dipergunakan Nyai untuk melepaskan celanaku sama sekali. Batang kemaluanku yang besar dan keras itu mengacung gagah, bebas lepas. Kuhentikan ciumanku, lalu kubuka Sweater yang dikenakan Euis. Hal yang sama kulakukan juga pada Nyai, sebelum aku sendiri membuka piyama atasku. Aku sudah telanjang bulat sekarang, sedangkan mereka berdua masih bercelana dalam. Tidak salah dugaanku.
Kurebahkan Euis, kemudian dengan rakus kukulum putting payudaranya yang belum terlalu besar. Kugigit perlahan, kutarik dan kuhisap kuat, membuat Euis sedikit berteriak. Sementara Nyai masih saja sibuk mengulum kemaluanku di bawah. Nafsuku sudah tidak tertahankan. Kubuka celana dalam Euis, lalu kujilati klitorisnya. Bulu kemaluannya masih sangat jarang. Kugelitik klitorisnya dengan jari tengahku, dan perlahan kucoba untuk menusukkan jariku itu ke dalam kemaluannya. Euis menghindar, dan berkata pelahan, "Jangan Kang." Dia benar-benar masih perawan karena jariku tidak bisa masuk, terhalang oleh selaput daranya.

Euis mendesah tidak karuan, kemudian mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sebelum terhempas diam. Dia sudah sampai di puncak kenikmatannya.


Kutinggalkan Euis telentang diam, kuserang Nyai. Kutelentangkan dia, kutarik celana dalamnya kemudian kujilati kemaluannya. Kepalanya mendongak karena berada di ujung bawah tempat tidur, sedang tangannya sibuk meremas-remas kepalaku yang cepak. Kumasukkan jari tengahku, bisa masuk. Kubengkokkan dan kutelusuri bagian atas kewanitaannya. Aku mencari daerah yang menurut istriku sangat nikmat bila disentuh. Kulihat gerakan perutnya semakin cepat, tanda bahwa titik itu sudah ditemukan. Kujilati klitorisnya sambil jari tengahku menekan-nekan bagian atas kewanitaannya yang hangat, basah dan lembut. Gerakannya semakin liar, semakin liar, sambil mulutnya mendesah kuat. Kuhentikan kegiatanku, lalu kudaki tubuhnya perlahan-lahan. Nyai membuka matanya, terlihat agak kecewa. Tapi itu tidak lama, karena segera kucium bibirnya, dan kutelusuri mulutnya dengan lidahku. 
 
Sementara itu, tanganku membimbing kemaluanku menuju liang kewanitaannya. Kugosok-gosokkan kepala kemaluanku ke klitorisnya, kemudian perlahan dan hati-hati kudorong masuk. Kuku jari Nyai yang agak panjang menancap kuat di punggungku, dan kulihat mukanya meringis seperti menahan sakit. Batang besar dan keras itu sedang berusaha menguak lubang kecil dan sempit, yang sudah sangat basah. Baru masuk tiga perempat, mata Nyai mendelik ke atas, sambil mulutnya mengeluh keras, "Aaaaaaccchhhh..." Rupanya lubang kewanitaannya tidak cukup dalam untuk menerima kemaluanku. Kalau kupaksakan, tentu akan menimbulkan kesakitan yang amat sangat. Jadi kubiarkan sejenak agar otot-otot vaginanya terbiasa, sebelum kegerakkan naik turun. Setiap kali tertancap, Nyai mengeluh keras, "Aaaaccchhh..." Aku tidak tahu pasti, apakah itu karena kesakitan atau menahan kenikmatan. Kemaluanku serasa dipijat dan dicengkeram karena sempitnya. Seluruh permukaan batang menggesek dinding gadis muda itu.

Lima menit kami bertempur, membuat tubuh mungilnya basah oleh keringat. Kepalanya semakin liar menggeleng kekiri dan kekanan, sambil kukunya mencakar kasar punggungku. Aku yakin pasti menimbulkan luka. Mudah-mudahan bisa sembuh sebelum ketahuan oleh istriku nanti. Dalam keadaan seperti itu, masih sempat aku teringat akan istriku. Nyai menggelepar kapayahan setelah melepas puncak kenikmatannya, kemudian telentang pasrah menerima terjangan dan tusukan yang semakin lama semakin cepat. Semakin cepat... semakin cepat... semakin cepat, dan dengan denyutan yang keras berirama, kemaluanku memuntahkan lahar putih kental yang banyak, ke atas perutnya. Pikiran jernihku masih bisa menahan untuk tidak ejakulasi di dalam. Akupun ambruk menimpa tubuh Nyai. Kukecup mulut mungilnya sambil berucap, "Terima kasih Nyai, kamu hebat sekali." Dia tersenyum, menarik kepalaku, menciumku lalu berujar, "Ampun Kang, Nyai nggak kuat. Terima Kasih juga."


Aku bangkit berdiri, masuk ke kamar mandi membersihkan diri. Satu kebiasaan yang selalu kulakukan setiap kali selesai bersetubuh. Kubersihkan kemaluanku yang masih basah oleh lendir. Kepalanya yang merah keunguan, sudah mulai mengecil.
Nafsu birahiku sudah lepas seiring dengan lepasnya sperma. Kepalaku serasa enteng, dan mulai bisa berpikir jernih, dan mulai lagi berandai-andai. Pikiran Negatif selalu ada, dan itulah yang mungkin membuatku selalu selamat dalam petualanganku selama ini.

Kembali ke kamar tidur, kulihat keduanya sudah masuk ke bawah selimut. Aku masuk ke antara mereka berdua, kemudian kucium bibir mereka bergantian. Akhirnya berhasil juga aku membawa kalian ke tempat tidur, senyumku dalam hati.


Ternyata ketenanganku hanya bertahan sebentar. Pikiranku langsung tergoda pada Euis yang masih
perawan. Aku terbayang nikmatnya pengalaman menembus selaput dara seorang gadis. Sampai saat ini, sudah 4 gadis yang berhasil kuperawani, termasuk istriku. Aku memang keterlaluan. Batang kemaluanku kembalu mengeras, besar dan berdenyut. Perlahan kugeser badanku menyamping mengadap Euis. Gadis manis yang seksi ini tengah tertidur dalam damai, sampai tidak sadar kalau tubuh telanjangnya sudah terbuka dari lindungan selimut. Kuperhatikan, payudaranya yang baru tumbuh. Pinggangnya yang ramping dan seksi, bulu kemaluannya yang baru tumbuh sedikit, dan kewanitaannya yang masih sangat rapat. Aku harus mencobanya, tekadku dalam hati. Perlahan kuelus lembut rambutnya, kemudian kuciumi keningnya, matanya, hidungnya, lalu sampai ke bibirnya. Perlahan kusapu bibir mungilnya yang merekah merah itu dengan lidahku. Terdengar desahan dari mulutnya. 
Rupanya dia terbangun karena aktifitasku ini. Kulumat mulutnya, yang mendapat perlawanan setimpal darinya. Tangannya yang satu mengelus dadaku, perlahan turun ke bawah. Berani juga anak ini, mungkin belum tau apa akibat yang akan ditimbulkannya. Tangan kiriku mengelus dadanya, kemudian meremas payudaranya. Desahannya semakin kuat. Kipindahkan mulutku perlahan ke dadanya, kemudian kuhisap kuat payudaranya sambil kupelintir putingnya dengan lidahku. Kepalanya mendongak ke atas menahan nikmat. Kutindih tubuh mungilnya, lalu perlahan kutelusuri tubuhnya ke arah bawah. Pusarnya kujilat membuat Euis menggelinjang kegelian. Kuteruskan penelusuranku semakin ke bawah, sampai ke kemaluannya yang sudah kembali basah. Kujilat klitorisnya yang menonjol keras, membuat kepalanya bergerak liar ke kiri ke kanan. Tidak mau rugi, akupun merubah posisi hingga mulutnya bisa bermain di kemaluanku.

Tapi rupanya dia belum terbiasa, hingga diam saja. Kuantar dia sampai ke puncak kenikmatannya yang pertama, yang membuat Euis memelukku dengan kuat dan berbisik, "Nikmat sekali kang." Merasa mendapat "angin", kubisikkan ketelinganya, "Euis sayang, boleh dimasukkan?" Dia menatapku lekat-lekat, membuatku ragu. Tapi dengan tidak ada reaksi lainnya, dalam hati kuyakinkan bahwa dia tidak menolak (walaupun tidak mengiyakan). Akupun kembali bergerilya dengan mulutku, mulai kedua payudara, sampai ke kemaluannya. Kubuat ia hampir sampai puncak selanjutnya, sebelum kuhentikan. Itu adalah satu rahasia kecil untuk membuat seorang wanita ketagihan dan mau menyerahkan segalanya. Saat hampir sampai, hentikan. Seakan dia akan memelas dan mau berbuat apapun agar kita memuaskannya. Kucium bibirnya sambil salah satu tanganku membimbing batang kemaluanku menuju ke liang senggamanya. Euis menatapku lekat-lekat, tetapi tidak berkata apa-apa. Perlahan kudorong, memasukinya. Baru kepalanya, kepala Euis sudah mendongak ke atas, dan mukanya menampakkan kesakitan. Ditembus saja sudah sakit, apalagi dengan batang sebesar itu. Aku tidak menyerah, perlahan tapi pasti kudorong batang kemaluanku memasukinya. Euis menggigit bibirnya keras, mungkin supaya tidak berteriak. Perlahan tapi pasti, selaput itupun terkuak. Kenikmatan tiada tara kurasakan saat penghalang itu tertembus.
 
Butir air mata terlihat di kedua sudut mata gadisku ini, menandakan kesakitan yang amat sangat. Tiga perempat sudah batang besar dan keras itu masuk, hampir jebol pertahananku karena sempit dan nikmatnya kemaluan Euis. Kuhentikan beberapa saat, sebelum kupompa naik turun. Aku yakin, Euis pasti tidak bisa menikmatinya karena belum terbiasa. Dia hanya telentang pasrah menerima genjotanku. Akupun tiba-tiba punya ide yang lebih gila, aku ingin ejakulasi di mulutnya. Ide itu membuatku cepat sampai ke puncak. Dan sebelum sempat memuntahkan lahar, kukeluarkan lalu kumasukkan ke dalam mulut mungilnya yang terbuka. Dia kaget, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa. Tidak lama, akupun memuntahkan cairan kental dan putih itu dalam mulutnya, yang segera dimuntahkannya ke lantai. Segera kupeluk Euis yang menangis terisak-isak, sambil kuciumi dan kuusap ubun-ubun kepalanya. Seprai merah jambu yang berantakan bernoda darah yang lumayan banyak. "Terima Kasih Euis," kataku. Dia diam saja, tapi balas memelukku erat. Sementara Nyai tetap tertidur lelap kelelahan. Dari mukanya terlihat kepuasan yang amat sangat. Malam itu, aku menyetubuhi Euis sekali lagi, sebelum kami berdua tidur berpelukan sampai pagi. Dalam pergumulan yang kedua ini, Euis tidak lagi terlihat kesakitan, walau kurasa, dia belum bisa menikmatinya.

Esok harinya, kami baru terbangun saat matahari sudah tinggi. Kupeluk kedua gadisku sambil kutanyakan, "Mau lagi?" Euis menggeleng pelan, sedangkan Nyai menjawab ingin, hanya harus pulang. Ya sudah, setelah masing-masing mandi membersihkan diri, kamipun meninggalkan penginapan itu. Pada saat kedua gadisku mandi, diam-diam kusisipkan
lima lembar seratus ribuan ke dalam masing-masing tas sekolahnya. Aku sudah membayangkan bagaimana komentar Room Boy-nya saat melihat tempat tidur berantakan dan bernoda darah. Setelah mengantarkan mereka ke rumah orang tua masing-masing, kupacu mobil biru kecilku menuju ke kota tujuan.
04.17 | 0 komentar | Read More

Cerita Dewasa Merengkuh Kenikmatan Keponakan

bersama saudara sendiri selalu saja menarik untuk diulas. Cerita Sex dengan kategori sedarah yang ingin aku ceritakan di website ini aku alami beberapa waktu lalu. Jadi ceritanya adalah begini, kalau pulang ke rumah setelah kerja, aku suka melepaskan semua pakaian kerjaku setelah masuk pintu, lalu berjalan-jalan di dalam rumah hanya memakai bra dan celana dalam. Setelah itu, biasanya aku akan mandi tanpa menutup pintu kamar mandi dan keluar kamar mandi setelah selesai dalam keadaan telanjang sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Kalau tidak malas, aku akan memakai celana dalam dan bra atau gaun malam saja tanpa celana dalam dan bra. Tapi kalau malas, aku akan membiarkan tubuhku telanjang, lalu aku akan mulai makan, nonton TV ataupun bersantai. Aku juga suka tidur dengan pakaian yang sexy dan minim. Pernah aku tidur tanpa memakai pakaian sama sekali.

Dua bulan yang lalu, aku kedatangan tamu dari Semarang. Tamu itu adalah keponakanku sendiri. Umurnya baru 17 tahun, dia anak dari kakak laki-lakiku yang paling bungsu. Dia datang di saat liburan sekolahnya. Aku sangat gembira menyambutnya. Dia kusuruh tinggal di kamar sebelah kamar tidurku. Hari-hari awal semuanya berjalan seperti normal, tetapi satu minggu kemudian, ada yang sedikit aneh. Pakaian dalamku sering kutemukan tidak pada tempat dan urutannya. Kadang-kadang sedikit tidak rapi. Ada timbul kecurigaan kalau keponakanku itu memainkan pakaian dalamku, sebab kalau tidak siapa lagi. Kadang-kadang ada pakaian dalamku yang hilang lalu besoknya ditemukan kembali ditempatnya semula. Aku mulai merasa kalau keponakanku memiliki obsesi seks tentang aku.


Suatu malam aku memutuskan untuk menguji keponakanku. Selesai mandi, aku segera mengambil celana dalam g-string warna merah dengan renda-renda yang sexy dan kukenakan. Setelah itu, aku memilih sebuah gaun malam berwarna pink dengan bahan satin. Gaun malam itu semi transparan, jadi tidak akan transparan bila dilihat dari dekat, tetapi akan menampakkan lekuk tubuhku bila ada latar cahayanya. Panjang gaun malam itu hanya 10 cm dari selangkanganku. Di bagian pundak hanya ada 2 tali tipis untuk menggantung gaun malam itu ke tubuhku. Bila kedua tali itu diturunkan dari pundakku, dijamin gaun malamku akan meluncur ke bawah dan menampakan tubuhku yang telanjang tanpa halangan.


Setelah itu, aku keluar ke ruang keluarga tempatku menonton TV dan segera duduk menonton TV. Mula-mula aku berusaha duduk dengan sopan dan berusaha menutupi selangkanganku dengan lipatan kakiku. Tak lama kemudian, keponakanku keluar dari kamarnya dan duduk di sebelahku. Sepanjang malam itu, kami berbincang-bincang sambil menonton TV, tetapi aku tahu kalau dia diam-diam mencuri lihat tubuhku lewat sudut mataku. Kadang-kadang aku menundukan badanku ke arah meja di depan seolah-olah menjangkau sesuatu yang akhirnya mempermudah dia melihat payudaraku lewat leher bajuku yang longgar. Tak lama kemudian, aku mencoba lebih berani lagi. Aku mengubah posisi tempat dudukku sehingga kali ini pakaian tidurku bagian belakang tersingkap dan memperlihatkan pantat dan tali g-string di pinggangku. Dari ujung mataku aku bisa melihat kalau keponakanku melihat bagian itu terus. Anehnya, aku mulai merasa terangsang. Mungkin ini akibat dari masa mudaku sebagai seorang eksibisionis.


Sejenak kemudian aku pergi ke kamar kecil. Sengaja pintu kamar mandi tidak kututup sampai rapat, tetapi menyisakan sedikit celah. Dari pantulan tegel dinding, aku melihat bayangan keponakanku muncul di celah pintu dan mengintipku, walaupun saat itu aku membelakangi pintu. Setelah itu, aku menundukan kepalaku, pura-pura konsentrasi pada g-stringku agar dia tidak kaget. Kemudian aku membalikkan badanku, mengangkat gaun malamku dan menurunkan celana dalamku di depan matanya. Aku tidak tahu bagaimana rasa seorang lelaki melihat hal ini, tetapi dari banyak yang kudengar, sebetulnya lelaki paling menyukai saat ini yaitu pada saat perempuan mulai membuka pakaiannya.


Dengan tetap menunduk, aku berjongkok dan menyemburkan air kencingku. Aku yakin dengan posisi seperti ini, keponakanku ini akan sangat menikmati pemandangan vaginaku yang mengeluarkan air kencing. Ini juga salah satu yang kudengar bahwa lelaki suka melihat perempuan kencing. Setelah kencingku selesai aku kembali berdiri, membetulkan g-stringku lalu kuturunkan gaun tidurku. Setelah itu, aku membalikan badanku lagi sambil membetulkan g-stringku bagian belakang. Sebetulnya aku memberikan kesempatan kepada keponakanku untuk pergi tapa terlihat aku. Benar saja, lagi-lagi dari pantulan tegel dinding aku melihat bayangan keponakanku menjauh ke arah ruang keluarga. Setelah semua selesai, aku kembali ke ruang keluarga dan berlagak seolah-olah tidak ada apa-apa.


Saat aku berjalan ke arah sofa, aku melihat kalau muka keponakanku merah, Dalam hatiku aku tertawa karena teringat masa laluku sebagai eksebisionis. Waktu itu, semua laki-laki yang memandangku saat aku sedang “Beraksi” juga memperlihatkan reaksi yang sama. Untuk menghilangkan rasa gugupnya, aku melemparkan senyum kepadanya, dan dibalas dengan senyum yang kikuk. Setelah itu, aku kembali duduk di sofa dengan posisi yang lebih sopan dan melanjutkan acara nonton TV dan bincang-bincang kami. Tak lama kemudian, aku memutuskan untuk tidur, karena saat itu jam 11.30.


Saat di dalam kamar, aku membaringkan tubuhku di tempat tidur. Gaun malamku yang tersingkap saat aku naik ke tempat tidur kubiarkan saja sehingga memperlihatkan g-string yang kupakai. Tali gaun tidurku sebelah kiri merosot ke siku tangan juga tidak kuperbaiki sehingga puting payudaraku sebelah kiri nongol sedikit. Aku mulai menikmati kalau diintip oleh keponakanku di kamar mandi tadi. Mulai besok aku merencanakan sesuatu yang lebih enak lagi.


Keesokan harinya adalah hari Minggu, jadi besoknya aku bangun dengan posisi pakaian yang tidak karuan. Setelah membetulkan tali bahu gaun malamku, aku keluar kamar. Di luar kamar, aku bertemu dengan keponakanku yang sudah bangun. Dia sedang menonton acara TV pagi. Aku menyapanya dan segera di balas dengan sapaannya juga. Setelah itu, aku mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Lagi-lagi pintu kamar mandi tidak kututup rapat. Seperti dugaanku, keponakanku kembali mengintipku. Aku kemudian membuka gaun malamku sehingga aku hanya mengenakan g-string. Gaunku itu kuletakan di tempat cucian. Setelah itu, dengan hanya memakai g-string, aku berdiri di depan wastafel dan menggosok gigiku. Saat menggosok gigi, payudaraku bergoyang-goyang karena gerakan tanganku yang menyikat gigi.


Keponakanku pasti melihatnya dengan jelas karena aku sudah mengatur posisi tubuhku agar dia dapat menikmati pemandangan ini. Setelah selesai, aku kemudian membuka g-stringku. Sementara g-stringku masih kupegang di tangan, aku kemudian kencing sambil berdiri. Air seniku kuarahkan ke lantai. Setelah itu, aku siram dan aku masuk ke tempat shower. Tempat shower itu sengaja tidak kututup juga. Aku kemudian mandi seperti biasa, tetapi saat menyabuni badan, aku menyabuni dengan perlahan-lahan. Gerakan tanganku kubuat sesensual mungkin. Bagian payudara dan vaginaku kusabuni agak lama. Setelah membilas badanku, aku masih melanjutkan acara mandi sambil diintip dengan mencuci rambut. Selesai semua itu, aku kemudian mengeringkan badan dan rambut, lalu melilitkan handuk di tubuhku. Sekilas aku melihat dari pantulan tegel dinding kalau keponakanku sudah pergi. Aku kemudian keluar dari kamar mandi.


Saat keluar aku melihat keponakanku duduk di depan TV sambil menikmati acara TV. Aku tahu sebetulnya dia hanya pura-pura. Mukanya merah seperti kemarin sewaktu habis mengintipku kencing. Aku kemudian masuk kamar tidurku. Pintu kamar tidurku kali ini tidak kututup rapat pula dengan harapan keponakanku akan mengintip baju. Lewat pantulan cermin di lemari pakaianku, aku melihat kalau bayangan keponakanku ada di depan pintu. Dia mengintipku lagi. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kubuka lilitan handukku sehingga aku telanjang bulat. Setelah itu, dengan handuk itu, aku terus mengeringkan rambutku yang basah sementara aku terus menuju ke meja rias.


Di meja rias, aku mengambil blower dan dengan blower itu, aku mengeringkan rambutku. Setelah kering, aku menuju ke lemari kemudian mengambil celana transparan yang berwarna putih. Setelah memakainya, aku kemudian mengambil sebuah strapless bra warna putih (bra yang tali bahunya bisa di lepas, tetapi kali ini aku tidak melepasnya) dengan kawat penyangga payudara di bagian bawah cupnya dan memakainya pula. Kemudian aku mengambil jubah pendek dari bahan satin berwarna putih dan kupakai. Setelah menalikan tali jubah itu ke pinggangku aku merapikan rambutku lagi sebelum keluar. Dari pantulan cermin aku melihat kalau bayangan keponakanku sudah tidak ada.


Setelah itu, aku keluar kamar dan menyiapkan makan pagi untuk kami berdua. Keponakanku saat itu sudah di kamar mandi untuk mandi. Perkiraanku, di kamar mandi dia tidak cuma sekedar mandi, tetapi pasti memakai gaun malam dan g-stringku sambil mastubasi membayangkan badanku. Aku tertawa dengan geli karena merasa berhasil merangsang keponakanku. Saat membayangkan rasanya diintip saat mandi dan ganti baju, cairan kewanitaanku terasa mengalir di sela-sela vaginaku. Aku sendiri betul-betul terangsang.




Saat makan pagi siap dan keponakanku selesai mandi, aku menyuruhnya makan bersama. Saat makan, jubah satin yang kupakai melonggar di bagian leher, tetapi aku pura-pura tidak tahu. Aku tahu kalau keponakanku memperhatikan bra yang terlihat akibat bagian leher yang terus melonggar. Setelah makan selesai, aku membereskan piring sementara keponakanku duduk di sofa membaca buku. Setelah aku merasa semua sudah beres, aku kemudian mengajaknya untuk jalan-jalan menikmati liburannya.


Sejak hari itu, aku selalu bermain kucing-kucingan dengan keponakanku. Kubiarkan dirinya mengintipku saat mandi, kencing atau ganti baju. Aku juga membiarkannya mencuri dan memakai pakaian dalamku sepanjang dia mengembalikannya baik ke lemariku maupun ke tempat cucian.


Aku pura-pura tidak tahu kalau dia melakukan semua itu. Hanya saat aku melakukan masturbasi saja yang tidak kubiarkan dia mengintip. Lagi pula biasanya aku melakukan masturbasi di malam hari saat hendak tidur. Sebetulnya ini karena aku malu menunjukkan kepadanya kalau aku sedang terangsang. Aku sangat menikmati situasi ini sampai saat dia harus pulang kembali ke Semarang, aku mengatakan kepadanya kalau aku sangat menyukai perhatiannya. Maksudku adalah aku suka diintip olehnya. Entah dia mengerti maksudku atau tidak, tetapi dia juga mengatakan kalau dia sangat menikmati liburan ini. Aku berharap untuk liburan selanjutnya, keponakanku mau datang lagi agar aku bisa menunjukan tubuhku lagi kepadanya.


Pengalaman ini sungguh indah dan menyegarkan masa laluku. Kalau ada kesempatan, aku akan berusaha untuk mengulanginya lagi hanya saja aku sekarang lebih suka diintip.
04.15 | 0 komentar | Read More

Aku Jadi Taruhan Oleh Suamiku

Rita (34) nyaris putus asa dalam menjalani hidup ini. Suaminya, Aryo, justru menjadikannya sebagai seorang pelacur. Aku tak pernah menyangka jika Mas Aryo tega menjual tubuhku. Ketika pertama kali aku mengenalnya, dia adalah laki-laki yang baik dan selalu menjagaku dari berbagai godaan laki- laki lain. Kami menikah lima tahun yang lalu dan dikarunai seorang anak laki-laki berusia tiga tahun dan kami beri nama Rizal. Perkawinan kami mulus-mulus saja sampai Rizal muncul diantara kami. Tentu saja waktuku banyak tersita untuk mendidik Rizal. Mas Aryo berkerja di perusahaan swasta yang bergerak dibidang produksi kayu, sedangkan aku hanya tinggal di rumah. Tetapi aku tidak pernah mengeluh. Aku tetap sabar menjalankan tugasku sebagai ibu rumah tangga sebaik- baiknya. Sebenarnya setiap hari bisa saja Mas Aryo pulang sore hari. Tetapi belakangan ini dia selalu pulang terlambat. Bahkan sampai larut malam. Pernah ketika kutanyakan, kemana saja kalau pulang terlambat. Dia hanya menjawab "Aku mencari penghasilan tambahan Rit", jawabnya singkat. 

Mas Aryo makin sering pulang larut malam, bahkan pernah satu kali dia pulang dengan mulut berbau alkohol, jalannya agak sempoyongan, rupanya dia mabuk. Aku mulai bertanya-tanya, sejak kapan suamiku mulai gemar minum- minum arak. Selama ini aku tidak pernah melihatnya seperti ini. Kadang-kadang ia memberikan uang belanja lebih padaku. Atau pulang dengan membawa oleh-oleh untuk aku dan Rizal anak kami. Setiap kali aku menyinggung aktivitasnya, Mas Aryo berusaha menghindari. "Kita jalankan saja peran masing-masing. Aku cari uang dan kamu yang mengurus rumah. Aku tidak pernah menanyakan pekerjaanmu, jadi lebih baik kamu juga begitu", katanya. Aku baru bisa menerka-nerka apa aktivitasnya ketika suatu malam, dia memintaku untuk menjual gelang yang kupakai. Ia mengaku kalah bermain judi dengan seseorang dan perlu uang untuk menutupi utang atas kekalahannya, jadi itu yang dilakukannya selama ini. Sebagai seorang istri yang berusaha berbakti kepada suami, aku memberikan gelang itu. Toh dia juga yang membelikan gelang itu. 

Aku memang diajarkan untuk menemani suami dalam suka maupun duka. Suatu sore saat Mas Aryo belum pulang, seorang temannya yang mengaku bernama Bondan berkunjung ke rumah. Kedatangan Bondan inilah yang memicu perubahan dalam rumah tanggaku. Bondan datang untuk menagih utang- utang suamiku kepadanya. Jumlahnya sekitar sepuluh juta rupiah. Mas Aryo berjanji untuk melunasi utangnya itu. Aku berkata terus-terang bahwa aku tidak tahu-menahu mengenai utang itu, kemudian aku menyuruhnya untuk kembali besok saja. Tetapi dengan pandangan nakal dia tersenyum, "Lebih baik saya menunggu saja Mbak, itung-itung menemani Mbak." Aku agak risih mendengar ucapannya itu, lebih-lebih ketika melihat tatapan liar matanya yang seakan-akan ingin menelanjangi diriku. "Aryo tidak pernah cerita kepada saya, kalau ia memiliki istri yang begitu cantiknya. Menurut saya, sayang sekali bunga yang indah hanya dipajang di rumah saja" ucap Bondan. Aku makin tidak enak hati mendengar ucapan rayuan-rayuan gombalnya itu, Tetapi aku mencoba menahan diri, karena Mas Aryo berutang uang kepadanya. 

Dalam hati aku berdoa agar Mas Aryo cepat pulang ke rumah, sehingga aku tidak perlu berlama-lama mengenalnya. Untung saja tak lama kemudian Mas Aryo pulang. Kalau tidak pasti aku sudah muntah mendengar kata-katanya itu. Begitu melihat Bondan, Mas Aryo tampak lemas. Dia tahu pasti Bondan akan menagih hutang-hutangnya itu. Aku meninggalkan mereka di ruang tamu, Mas Aryo kulihat menyerahkan amplop coklat. Mungkin Mas Aryo sudah bisa melunasi hutangnya. Aku tidak dapat mendengar pembicaraannya, namun kulihat Mas Aryo menunduk dan sesekali terlihat berusaha menyabarkan temannya itu. Setelah Bondan pulang, Mas Aryo memintaku menyiapkan makan malam. Dia menikmati sajian makan malam tanpa banyak bicara, Aku juga menanyakan apa saja yang dibicarakannya dengan Bondan. Aku menyadari Mas Aryo sedang suntuk, jadi lebih baik aku menahan diri. Setelah selesai makan, Mas Aryo langsung mandi dan masuk ke kamar tidur, aku menyusul masuk kamar satu jam kemudian setelah berhasil menidurkan Rizal di kamarnya. Ketika aku memasuki kamar tidur dan menemaninya di ranjang, Mas Aryo kemudian memelukku dan menciumku. Aku tahu dia akan meminta 'jatahnya' malam ini. Malam ini dia lain sekali sentuhannya lembut. 

Pelan-pelan Mas Aryo mulai melepaskan daster putih yang kukenakan, setelah mencumbuiku sebentar, Mas Aryo mulai membuka bra tipis yang kukenakan dan melepaskan celana dalamku. Setelah itu Mas Aryo sedikit demi sedikit mulai menikmati jengkal demi jengkal seluruh bagian tubuhku, tidak ada yang terlewati. Kemudian aku membantu Mas Aryo untuk melapaskan seluruh pakaian yang dikenakannya, sampai akhirnya aku bisa melihat penis Mas Aryo yang sudah mulai agak menegang, tetapi belum sempurna tegangnya. Dengan penuh kasih sayang kuraih batang kenikmatan Mas Aryo, kumain- mainkan sebentar dengan kedua belah tanganku, kemudian aku mulai mengulum batang penis suamiku dengan lembutnya. Terasa di dalam mulutku, batang penis Mas Aryo terutama kepala penisnya, mulai terasa hangat dan mengeras. Aku menyedot batang Mas Aryo dengan semampuku, kulihat Mas Aryo begitu bergairah, sesekali matanya terpejam menahan nikmat yang kuberikan kepadanya. Mas Aryo kemudian membalas, dengan meremas-remas kedua payudaraku yang cukup menantang, 36B. Aku mulai merasakan denyut-denyut kenikmatan mulai bergerak dari puting payudaraku dan mulai menjalar keseluruh bagian tubuhku lainnya, terutama ke vaginaku. Aku merasakan liang vaginaku mulai terasa basah dan agak gatal, sehingga aku mulai merapatkan kedua belah pahaku dan menggesek-gesekan kedua belah pahaku dengan rapatnya, agar aku dapat mengurangi rasa gatal yang kurasakan di belahan liang vaginaku. 

Mas Aryo rupanya tanggap melihat perubahanku, kemudian dengan lidahnya Mas Aryo mulai turun dan mulai mengulum daging kecil clitorisku dengan nafsunya, Aku sangat kewalahan menerima serangannya ini, badanku terasa bergetar menahan nikmat, peluh ditubuhku mulai mengucur dengan deras diiringi erangan-erangan kecil dan napas tertahan ketika kurasakan aku hampir tak mampu menahan kenikmatan yang kurasakan. Akhirnya seluruh rasa nikmat semakin memuncak, saat penis Mas Aryo, mulai terbenam sedikit demi sedikit ke dalam vaginaku, rasa gatal yang kurasakan sejak tadi berubah menjadi nikmat saat penis Mas Aryo yang telah ereksi sempurna mulai bergerak-gerak maju mundur, seakan-akan menggaruk-garuk gatal yang kurasakan. Suamiku memang jago dalam permainan ini. Tidak lebih dari lima belas menit aku berteriak kecil saat aku sudah tidak mampu lagi menahan kenikmatan yang kurasakan, tubuhku meregang sekian detik dan akhirnya rubuh di ranjang ketika puncak-puncak kenikamatan kuraih pada saat itu, mataku terpejam sambil menggigit kecil bibirku saat kurasakan vaginaku mengeluarkan denyut-denyut kenikmatannya. 

Dan tidak lama kemudian Mas Aryo mencapai puncaknya juga, dia dengan cepatnya menarik penisnya dan beberapa detik kemudian, air maninya tersembur dengan derasnya ke arah tubuh dan wajahku, aku membantunya dengan mengocok penisnya sampai air maninya habis, dan kemudian aku mengulum kembali penisnya sekian lama, sampai akhirnya perlahan-lahan mulai mengurang tegangannya dan mulai lunglai. "Aku benar-benar puas Rit, kamu memang hebat", pujinya. Aku masih bergelayut manja di dekapan tubuhnya. "Rit, kamu memang istriku yang baik, kamu harus bisa mengerti kesulitanku saat ini, dan aku mau kamu membantu aku untuk mengatasinya", katanya. "Bukankah selama ini aku sudah begitu Mas", sahutku. Mas Aryo mengangguk- angguk mendengarkan ucapakanku. Kemudian ia melanjutkan, "Kamu tahu maksud kedatangan Bondan tadi sore. Dia menagih utang, dan aku hanya sanggup membayar setengah dari keseluruhan utangku. Kemudian setelah lama berbicang-bincang ia menawarkan sebuah jalan keluar kepadaku untuk melunasi hutang-hutangku dengan sebuah syarat", ucap Mas Aryo. "Apa syaratnya, Mas?" tanyaku penasaran. "Rupanya dia menyukaimu, dia minta izinku agar kamu bisa menemani dia semalam saja", ucap Mas Aryo dengan pelan dan tertahan. Aku bagai disambar petir saat itu, aku tahu arti 'menemani' selama semalam. Itu berarti aku harus melayaninya semalam di ranjang seperti yang kulakukan pada Mas Aryo. 

Mas Aryo mengerti keterkejutanku. "Aku sudah tidak tahu lagi dengan apalagi aku harus membayar hutang- hutangku, dia sudah mengancam akan menagih lewat tukang-tukang pukulnya jika aku tidak bisa membayarnya sampai akhir pekan ini", katanya lirih. Aku hanya terdiam tak mampu mengomentari perkataannya itu. Aku masih shock memikirkan aku harus rela memberikan seluruh tubuhku kepada lelaki yang belum kukenal selama ini. Sikap diamku ini diartikan lain oleh Mas Aryo. "Besok kamu ikut aku menemui Bondan", ujarnya lagi, sambil mencium keningku lalu berangkat tidur. Seketika itu juga aku membenci suamiku. Aku enggan mengikuti keinginan suamiku ini, namun aku juga harus memikirkan keselatan keluarga, terutama keselamatan suamiku. Mungkin setelah ini ia akan kapok berjudi lagi pikirku. Sore hari setelah pulang kerja, Mas Aryo menyuruhku berhias diri dan setelah itu kami berangkat menuju tempat yang dijanjikan sebelumnya, rupanya Mas Aryo mengantarku ke sebuah hotel berbintang. Ketika itu waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 20.00 malam. Selama hidup baru pertama kali ini, aku pergi untuk menginap di hotel. Ketika pintu kamar di ketuk oleh Mas Aryo, beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka, dan kulihat Bondan menyambut kami dengan hangatnya, Suamiku tidak berlama-lama, kemudian ia menyerahkan diriku kepada Bondan, dan kemudian berpamitan. 

Dengan lembut Bondan menarik tanganku memasuki ruangan kamarnya. Aku tertunduk malu dan wajahku terasa memerah saat aku merasakan tanganku dijamah oleh seseorang yang bukan suamiku. Ternyata Bondan tidak seburuk yang kubayangkan, memang matanya terkesan liar dan seakan mau melahap seluruh tubuhku, tetapi sikapnya dan perlakuannya kepadaku tetap tenang, sehingga dikit demi sedikit rasa grogi yang menyerangku mulai memudar. Bondan menanyakan dengan lembut, aku ingin minum apa. Kusahut aku ingin minum coca-cola, tetapi jawabnya minuman itu tidak ada sekarang ini di kamarnya, kemudian dia mengeluarkan sebotol sampagne dari kulkas dan menuangkannya sedikit sekitar setengah sloki, kemudian disuguhkannya kepadaku, "Ini bisa menghilangkan sedikit rasa gugup yang kamu rasakan sekarang ini, dan bisa juga membuat tubuhmu sedikit hangat. 

Kulihat dari tadi kelihatannya kamu agak kedinginan", ucapnya lagi sambil menyodorkan minuman tersebut. Kuraih minuman tersebut, dan mulai kuminum secara dikit demi sedikit sampai habis, memang benar beberapa saat kemudian aku merasakan tubuh dan pikiranku agak tenang, rasa gorgi sudah mulai menghilang, dan aku juga merasakan ada aliran hangat yang mengaliri seluruh syaraf-syaraf tubuhku. Bondan kemudian menyetel lagu-lagu lembut di kamarnya, dan mengajakku berbincang-bincang hal-hal yang ringan. Sekitar 10 menit kami berbicara, aku mulai merasakan agak pening di kepalaku, tubuhkupun limbung. Kemudian Bondan merebahkan tubuhku ke ranjang. Beberapa menit aku rebahan di atas ranjang membuatku mulai bisa menghilangkan rasa pening di kepalaku. Tetapi aku mulai merasakan ada perasaan lain yang mengalir pada diriku, ada perasaan denyut-denyut kecil di seluruh tubuhku, semakin lama denyut- denyut tersebut mulai terasa menguat, terutama di bagian-bagian sensitifku. Aku merasakan tubuhku mulai terangsang, meskipun Bondan belum menjamah tubuhku. 

Ketika aku mulai tak kuasa lagi menahan rangsangan di tubuhku, napasku mulai memburu terengah-engah, payudaraku seakan-akan mengeras dan benar-benar peka, vaginaku mulai terasa basah dan gatal yang menyengat, perlahan-lahan aku mulai menggesek-gesekkan kedua belah pahaku untuk mengurangi rasa gatal dan merangsang di dalam vaginaku. Tubuhku mulai menggeliat- geliat tak tahan merasakan rangsangan seluruh tubuhku. Bondan rupanya menikmati tontonan ini, dia memandangi kecantikan wajahku yang kini sedang terengah-engah bertarung melawan rangsangan, nafsunya mulai memanas, tangannya mulai meraba tubuhku tanpa bisa kuhalangi lagi. Remasan-remasan tangannya di payudaraku membuatku tidak tahan lagi, sampai tak sadar aku melorotkan sendiri pakaian yang kukenakan. Saat pakaian yang kukenakan lepas, Mata Bondan tak lepas memandangi belahan payudaraku yang putih montok dan yang menyembul dan seakan ingin loncat keluar dari bra yang kukenakan. 

Tak tahan melihat pemandangan indah ini, Bondan kemudian menggumuliku dengan panasnya sembari tangannya mengarah ke belakang punggungku, tidak lebih dari 3 detik, kancing bra-ku telah lepas, kini payudaraku yang kencang dan padat telah membentang dengan indahnya, Bondan tak mau berlama-lama memandangiku, dengan buasnya lagi ia mencumbuiku, menggumuliku, dan tangannya semakin cepat meremas-remas payudaraku, cairan vaginaku mulai membasahi celana putihku. Melihat ini, tangan bondan yang sebelahnya lagi mulai bermain-main di celanaku tepat di cairan yang membasahi celanaku, aku merasakan nikmat yang benar-benar luar biasa. Napasku benar-benar memburu, mataku terpejam nikmat saat tangan Bondan mulai memasuki celana dalamku dan memainkan daging kecil yang tersembunyi di kedua belahan rapatnya vaginaku. Bondan memainkan vaginaku dengan ahlinya, membuatku terpaksa merapatkan kedua belah pahaku untuk agak menetralisir serangan- serangannya, jari-jarinya yang nakal mulai menerobos masuk ke liang tubuhku dan mulai memutar-mutar jarinya di dalam vaginaku. Tak puas karena celana dalamku agak mengganggu, dengan cepatnya sekali gerakan dia melepaskan celana dalamku. 

Aku kini benar-benar bugil tanpa tersisa pakaian di tubuhku. Bondan tertegun sejenak memandangi pesona tubuhku, yang masih bergeliat- geliat melawan rangsangan yang mungkin diakibatkan obat perangsang yang disuguhkan di dalam minumanku. Dengan cepatnya selagi aku masih merangsang sendiri payudaraku, Bondan melepaskan dengan cepat seluruh pakaian yang dikenakan sampai akhirnya bugil pula. Aku semakin bernafsu melihat batang penis Bondan telah berdiri tegak dengan kerasnya, Besar dan panjang. Dengan cepat Bondan kembali menggumuliku dengan benar-benar sama-sama dalam puncak terangsang, aku merasakan payudaraku diserang dengan remasan-remasan panas, dan.., ahh.., akupun merasakan batang penis Bondan dengan cepatnya menyeruak menembus liang vaginaku dan menyentuh titik-titik kenikmatan yang ada di dalam liang vaginaku, aku menjerit-jerit tertahan dan membalas serangan penisnya dengan menjepitkan kedua belah kakiku ke arah punggungnya sehingga penisnya bisa menerobos secara maksimal ke dalam vaginaku. 

Kami bercumbu dengan panasnya, bergumul, setiap kali penis Bondan mulai bergerak masuk menerobos masuk ataupun saat menarik ke arah luar, aku menjepitkan otot-otot vaginaku seperti hendak menahan pipis, saat itu aku merasakan nikmat yang kurasakan berlipat-lipat kali nikmatnya, begitu juga dengan Bondan, dia mulai keteteran menahan kenikmatan tak bisa dihindarinya. Sampai pada satu titik saya sudah terlihat akan orgasme, Bondan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan hentakan2 penisnya yang dipercerpat.. akhirnya kekuatan pertahananku ambrol.. saya orgasme berulang-ulang dalam waktu 10 detik.. Bondan rupanya juga sudah tidak mampu menahan lagi serangannya dia hanya diam sejenak untuk merasakan kenikmatan dipuncak-puncak orgasmenya dan beberapa detik kemudian mencabut batang penisnya dan tersemburlan muncratan-muncratan spermanya dengan banyaknya membanjiri wajah dan sebagian berlelehan di belahan payudaraku. Kamipun akhirnya tidur kelelahan setelah bergumul dalam panasnya birahi. 

Keesokan paginya, Bondan mengantarku pulang ke rumah. Kulihat suamiku menerimaku dengan muka tertuduk dan berbicara sebentar sementara aku masuk ke kamar anakku untuk melihatnya setelah seharian tidak kuurus. Setelah kejadian itu, aku dan suamiku sempat tidak berbicara satu sama-lain, sampai akhirnya aku luluh juga saat suamiku minta maaf atas kelakuannya yang menyebabkan masalah ini sampai terjadi, tetapi hal itu tidak berlangsung lama, suamiku kembali terjebak dalam permainan judi. Sehingga secara tidak langsung akulah yang menjadi taruhan di meja judi. Jika menang suamiku akan memberikan oleh-oleh yang banyak kepada kami. Tetapi jika kalah aku harus rela melayani teman-teman suamiku yang menang judi. Sampai saat ini kejadian ini tetap masih berulang. Oh sampai kapankah penderitaan ini akan berakhir. TAMAT
Bagaimana ceritanya? masih ingin membaca cerita dewasa lagi? kunjungi link berikut ini.. di dalamnya sudah terdapat kumpulan link cerita dewasa Kumpulan Cerita Dewasa  Dan
04.06 | 0 komentar | Read More